Efek Mandela (Jilid 2)

 

 

Meneruskan posting saya tentang Efek Mandela sebelumnya, saya hanya ingin mengatakan bahwa entah kenapa posting itu laris dibaca.

Di jilid 2 ini saya hanya ingin menambahkan beberapa hal yang juga heboh dibincangkan sebagai Efek Mandela. Namun, ada juga yang sekilas seperti efek itu, tapi sebenarnya bukan. Hahaha, jadi hanya mendompleng ketenaran si Efek Mandela ya?

Nah, contoh yang abal-abal itu adalah ini: sebagian penonton film Forrest Gump (yang dibintangi Tom Hanks) yakin bahwa di salah satu adegan dimana dia duduk di taman sambil bercerita kesana kemari dan memegang sekotak coklat, Gump mengatakan: “Life is like a box of chocolate”. Banyak sekali orang yang yakin bahwa itulah yang dia ucapkan.

Padahal, bukan. Yang benar adalah dia mengatakan: “Life WAS like a box of chocolate”.

Saya langsung tertawa membaca ini. O alaah, itu mah bukan Epek Mandela namanya (ini adalah basa Jawa dari “Mandela Effect”). Itu masalah kesalahan mendengarkan aja. Listening Comprehensionnya orang-orang yang salah dengar itu pasti 50 ke bawah. Orang si Gump mengatakan “WAS” kok didengarnya “IS”. Bwahahaha! Salah dengar, bro, bukan Mandela Epeeek!

Lalu masih ada yang diklaim sebagai Epek Mandela yaitu film “Shazam”. Banyak orang ngotot bahwa dulu itu ada film dengan lakon yang namanya “Shazam”. Para produser bilang sebaliknya, yaitu bahwa ndak pernah ada karakter macam begituan di dunia film.

Nah, saya kurang yakin bahwa itu bener atau salah. Saya sendiri sekilas pernah ingat ada yang namanya Shazam. Nah, nah, jangan-jangan saya juga termasuk yang kena gejala Epek Mandela ini.

Eh, BTW, kenapa namanya kok Epek Mandela sih? Buat saya yang pria tulen, nampaknya akan lebih mengesankan kalau gejala itu dinamai Epek Miyabi. Kan Miyabi lebih cepat mengobarkan ingatan daripada Mandela? LOL.

Ngomong-ngomong, apakah ada di antara pembaca budiman yang pernah mengalami gejala Epek Mandela? Mari kita kenang peristiwa pahit kerusuhan rasial Mei 1998. Sebagian orang mengatakan banyak warga keturunan Tionghoa mengalami perkosaan massal oleh kelompok-kelompok preman. Namun banyak pula yang menyangkal dan mengatakan: “ndak ada tuh pemerkosaan massal. Itu hanya cerita yang dihembuskan oleh pihak-pihak yang ingin mencemarkan nama baik pemerintah atau militer”.

Apakah ini Epek Mandela juga?

Yang jelas, saya pribadi pernah mengalaminya. Ada beberapa sepupu yang ngotot bahwa di pertengahan tahun 80 an ketika kami masih SMA, saya pernah menyanyikan lagu “Wrap Around Your Finger” dari the Police, sedemikian seringnya sampai akhirnya sepupu-sepupu saya itu suka lagu itu.

Padahal yaoloh saya merasa tidak pernah menyanyikan satu not pun lagu tersebut. Mau saya ingat-ingat sampai berapa kali pun saya yakin tidak pernah menyanyi lagu itu di depan saudara-saudara saya. Tapi mereka pun ngotot tidak kalah gigihnya bahwa saya tuh nyanyi-nyanyi lagu itu sampai mereka semua akhirnya terpengaruh dan suka.

Jadi, siapa yang benar? Apakah kami mengalami apa yang disebut sebagai “fake memory” alias pengingatan yang cacad karena sesuatu hal, ataukah memang “saya” dari alam semesta yang lain sedang overlap dengan alam semesta kami sehingga menimbulkan kebingungan itu?

Epek Mandela, gitu loh.

 

Leave a Reply