Kuliah Bukan Pilihan yang Tepat Jika . . .

Setelah lulus SMA, tanpa banyak pikir seseorang muda usia 18-19 tahun pasti akan melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Orang tuanya juga tanpa banyak pikir, seolah otomatis, langsung menyediakan dana dan cari info kesana-kemari untuk mendapatkan perguruan tinggi yang bagus buat anaknya. Menjelang Juni sampai Agustus mereka pun sibuk tes masuk kesana kemari, atau mencari koneksi pejabat di beberapa perguruan tinggi favorit supaya anaknya bisa masuk jurusan favorit.

Kenapa kuliah seolah menjadi pilihan yang otomatis selepas SMA?

Pertimbangkan ilustrasi ini: seorang mahasiswa jurusan ekonomi sedang mengikuti kuliah di universitasnya ketika tiba-tiba dia berpikir: “Ngapain ya aku duduk disini mendengarkan uraian teori yang canggih-canggih sementara peluang di luar sana menunggu untuk disambar? Apa iya nanti teori-teori sebagus ini akan bisa dipraktekkan di dunia luar sana?”

Semester berikutnya si mahasiswa itu berhenti kuliah. Bersama seorang temannya dia mendirikan sebuah lembaga keuangan dan menjadi sejahtera setelah bisnisnya itu mulai populer.

Saya beberapa kali menjumpai kasus-kasus lulusan yang setelah lulus dari perguruan tinggi bertanya-tanya sendiri: “Kalau akhirnya hanya begini, ngapain ya dulu aku susah-susah kuliah?”

Sadarlah bahwa perguruan tinggi adalah tempat yang sarat dengan aturan dan cara pikirnya sendiri. Dua ciri utama yang melandasinya adalah: kaku, dan terurut. Paradigma belajar di perguruan tinggi adalah hal yang kaku. Anda tidak boleh seenaknya sendiri menetapkan cara dan jam belajar. Semua kelas dimulai jam sekian sampai jam sekian, bukunya harus buku A, C, dan D, dan untuk dianggap lulus harus mengerjakan tugas X, Y, dan Z. Di kelas mahasiswa harus duduk tertib, tidak boleh merokok, tidak boleh mendengarkan musik ketika kuliah berjalan. Materi yang dipelajari terurut, mulai dari yang paling ringan sampai yang paling sulit. Semua materi mempunyai landasan teorinya sendiri-sendiri, dan Anda harus menguasainya, peduli amat Anda bertanya-tanya tentang manfaat praktisnya. Mata kuliah pun harus diambil berurutan. Kalau ada mata kuliah prasyarat yang belum diambil atau belum lulus, Anda tidak bisa mengambil mata kuliah lanjutannya sekalipun Anda yakin bisa mengikuti mata kuliah tersebut.

Kalau Anda termasuk orang yang tidak bisa hidup dengan lingkungan yang kaku dan terurut seperti itu, pertimbangkanlah masak-masak sebelum Anda masuk ke perguruan tinggi menjadi mahasiswa. Jika Anda tergolong dari satu atau lebih gambaran berikut, maka Anda tidak cocok untuk jadi mahasiswa:

1. Punya gairah (passion) di bidang perdagangan, dan Anda yakin memiliki layanan atau produk yang bakal laris.

Kalau Anda masuk ke golongan ini dan tetap memaksa mau kuliah, nanti Anda akan terjebak pada pengalaman si mahasiswa di atas itu. Anda akan menyesal masuk kampus, karena ternyata kampus mengharuskan Anda menguasai teori-teori yang tidak jelas manfaatnya untuk bidang dagang Anda. Lebih buruk lagi, Anda kehilangan peluang dan waktu emas. Sementara Anda menghapal rumus dan teori sammpai botak, saingan-saingan Anda sudah melesat meninggalkan Anda dengan omzetnya yang makin lama makin besar.

2. Anda adalah wanita molek yang sangat fotogenik dan narsis.

Jika Anda seperti ini, ada kecenderungan otak Anda juga berkapasitas sangat terbatas untuk menampung dan mengolah teori-teori, rumus, pola, dan analisis khas di dunia perguruan tinggi. Sudahlah, lupakan kuliah. Minta orang tua atau saudara untuk mencarikan sekolah model, atau agen modelling yang nantinya akan mengantar Anda menjadi model tersohor.

3. Jika Anda pria, Anda punya bodi yang bagus dan sangat suka membentuknya lewat fitness.

Anda berbakat menjadi seorang model! Kalau pun nantinya otak Anda mengalami atropi (mengerut) karena jarang digunakan berpikir mendalam, setidaknya Anda punya bodi dan abs yang membuat orang tergetar saking bagus dan padatnya. Lupakan kuliah. Perbanyak latihan dan senam kebugaran untuk membentuk bodi, makan asupan vitamin atau steroid yang membuat Anda makin kekar berisi.

4. Anda suka berpidato dan memotivasi orang lain.

Anda berbakat menjadi pengganti Mario Teguh! Karena Anda dikaruniai vokal yang bagus dan penampilan komikal yang menghibur, rintislah karir menjadi seorang motivator. Cuma, jangan lupa pantangannya: jangan menyampaikan ceramah motivasi untuk anak-anak SMA yang ingin kuliah, karena akan menjadi lucu: wong Anda sendiri ndak kuliah kok mau memotivatori orang supaya kuliah?

5. Anda adalah orang yang punya bakat seni musik luar biasa.

Seorang seniman seperti Anda akan tersiksa di lingkungan kampus yang mengagungkan penguasaan teori secara kaku, runtut, dan urut itu. Kuliah Anda pasti akan banyak bolongnya karena Anda merasa lebih nyaman latihan band untuk suatu gig di event tertentu di kafe atau pagelaran lainnya. Daripada kuliah secara amburadul kayak gitu, manfaatkanlah usia muda untuk membentuk band atau grup lawak atau grup bentuk kesenian lainnya. Cari jaringan. Cari promotor untuk mempromosikan kiprah Anda di dunia seni. Ketika teman-teman sebaya Anda sibuk menulis skripsi, Anda sibuk menyiapkan rekaman perdana dengan sebuah produser ternama. Keren, bukan?

Jadi intinya, Anda sedang saya bukakan wawasan supaya tidak mempertimbangkan kuliah di perguruan tinggi sebagai satu-satunya jalan hidup selepas SMA. Masih ada banyak jalan lain menuju kehidupan yang juga layak dan asik. Yang jelas, Anda harus punya gairah (passion), sehingga tanpa gelar sarjana pun Anda tetap bisa eksis dan sehat jiwa raga.

Leave a Reply