Hoax

“Donald Trump tewas setelah tadi pagi terkena serangan jantung” (breaking news CNN tadi siang jam 12.30).

Percayakah Anda berita itu?

Tahun 2016 dan sesudahnya kita melihat bagaimana maraknya hoax (berita palsu) di dunia maya. Berita palsu itu dikemas dengan sedemikian sehingga menarik orang untuk membacanya. Ibarat perangkap tikus, jika mereka mempercayai berita itu, maka hap! terperangkaplah mereka dalam jeratan berita palsu. Jebakan itu akan makin menggigit manakala si orang yang percaya tadi lalu menyebarkannya ke teman-temannya yang lain di dunia maya. Akibatnya, keyakinan akan suatu berita bohong akan menyebar dengan sangat cepatnya melebihi kecepatan suara. Betul, kecepatan suara, karena tanpa mendengar suaranya dan cukup membaca suatu berita di layar gadgetnya orang sudah percaya akan kebenaran suatu berita yang ternyata palsu!

Orang-orang yang masih berakal budi normal dan baik merasa gerah terhadap gejala ini. Mereka lalu membuat serum penangkalnya. Salah satu upayanya adalah membentuk sebuah situs khusus untuk memberitahu publik bahwa apapun yang ada disitu adalah palsu. Coba klik gudanghoax.com Nah itu adalah salah satu situs penangkal berita hoax.

Beberapa orang lain mencoba membuat arahan tentang ciri-ciri situs atau berita hoax. Inilah beberapa diantaranya:

1. Sufix situs berakhiran dengan “com.co”. Misalnya, “AmericanNews.com.co” Ini adalah salah satu ciri bahwa situs itu sumber hoax. Namanya dibuat mirip dengan situs jujur yang baik-baik, tapi sufix di belakang nama domain itu memberi tahu kita bahwa dia adalah situs hoax. Kalau di Indonesia, waspadalah dengan situs yang berakhiran “co.id” karena walaupun tidak semua, banyak situs seperti itu yang ternyata adalah situs hoax.

BTW, hoax itu bacanya /houks/ lho ya, bukan /hoks/ dengan “o” seperti pada “mangkOk”.

2. Kebanyakan menggunakan kata-kata yang bombastis dan sensasional, seperti misalnya: “Pemuda ini Meraup Ratusan Juta per Hari”, “Langsing dalam Waktu Seminggu Saja”, atau “Donald Trump Hajar Diplomat Tiongkok”.

3. Antara judul dengan isi tidak selaras. Judulnya “Bagaimana Meraup Untung lewat Bisnis Online” ternyata isinya produk asuransi. Bayangkan kalau Anda membaca judul “Rupiah Terpuruk ke Level 30 Ribuan per USD”, padahal setelah Anda baca dengan cermat itu hanyalah dugaan seorang ahli kalau ada kekacauan masif di negeri ini. Taktik yang ini sangat jahat karena kebanyakan orang hanya mempercayai judulnya tanpa mau melihat isinya. Penipu yang tahu kecenderungan ini bisa dengan mahir memasang judul-judul yang menghebohkan yang ternyata tidak sesuai dengan isi beritanya.

4. Foto-foto yang dipasang kebanyakan menggugah emosi, entah itu geram, kasihan, atau takut. Contoh terkenal kasus ini adalah foto tentang pengungsi Iraq yang tewas dibom pasukan Amerika. Setelah diselidiki, korban-korban yang bergeletakan disitu adalah korban bom bunuh diri di sebuah pasar di Iraq beberapa tahun sebelumnya.

Nah, dengan petunjuk di atas sekilas mudah membedakan mana berita hoax dan mana yang bukan. Namun ternyata kemajuan para penipu ini luar biasa. Sekarang situs mereka pun sudah berakhiran dot com. Foto-foto yang mereka unggah juga tampak asli dan terkini. Uraiannya dilengkapi dengan data statistik yang entah diambil dari mana lalu digoreng sedemikian rupa sehingga nampak sangat meyakinkan.

Kalau sudah begini, ahli anti hoax pun kewalahan. Pelatihan penangkal hoax pun bisa bobol karena pesertanya ternyata masih saja terbujuk berita hoax yang sangat canggih.

Lalu terjadilah apa yang dikhawatirkan seorang ahli psikologi massa: “maka kita pun menjadi tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang bohong. Lalu kita pun akan beranggapan bahwa semuanya adalah bohong.”

Celaka.

Leave a Reply