Ahok ini Ngapain di Indonesia?

Pagi tadi ketika mau sarapan saya tiba-tiba merandeg sebentar. Terlintas bayangan seorang Ahok di pikiran. Saya heran, sedang mimpi “buruk” apakah kita ini sebagai bangsa Indonesia kok tiba-tiba disodori realita sesosok figur pemimpin yang enggak banget di negara kita ini? Dari sejak kecil ketika jamannya Pak Harto, mindset yang saya punyai tentang sosok pemimpin negara Indonesia pastilah (the so-called) pribumi, beragama Muslim, dan suku Jawa. Jadi pastilah sosok itu berkulit sawo matang, bermata tidak sipit, dan memakai kopiah. Lha lantas bagaimana mungkin dalam beberapa tahun terakhir ini kita disodori kenyataan bahwa calon pemimpin itu ada yang berkulit kuning, bermata sipit, beragama Kristen (alias kafir – Red), dan Cina pula??

Ahok sendiri pernah mengatakan kepada teman sekelas saya yang sudah bekerja di sebuah harian terkenal di Ibu Kota: “Kalau gue ini apalah, udah Kristen, Cina pula. Ndak bakal didukung jadi calon pemimpin ibukota.”

Saya tidak banyak tahu tentang sosok seorang Ahok. Ketika dia mendampingi Pak Jokowi menjadi wakil gubernur DKI pun, saya tidak terkesan sama sekali. “Halah, paling ya cuma sebagai jangkep-jangkepan (penggenap, biar keliatan lengkap) aja” demikian batin saya ketika itu.

Dalam kurun waktu beberapa tahun dia membuktikan bahwa figur dirinya ternyata jauh lebih dahsyat daripada apa yang banyak orang pandang. “He takes the country by the storm” demikian ungkapan bahasa Maduranya. Dikenal lurus, bersih, penuh integritas, dan berani, Ahok menyajikan gaya memimpin yang fenomenal, sangat mencengangkan, sekaligus inspirasional. Pendiriannya yang sangat jujur dan anti korupsi itu membuat saya akhirnya memperhatikan juga sosok yang tadi saya bilang “enggak banget” ini. Diam-diam dalam hati kecil kita rakyat Indonesia ternyata merindukan pemimpin yang seperti ini setelah sekian dekade dicekoki fakta bahwa banyak orang yang dipercayai mandat sebagai pemimpin ternyata membusuk jadi koruptor, penyebar kebencian, penghasut, koboi cengeng dan sebagainya.

Apakah dia Cina? Ya iya laaah. Wong dia pernah tertangkap kamera dengan fasihnya ngomong bahasa Hokkien kepada sanak saudaranya di rumah, kok. Tapi kalau dia Cina, bagaimana mungkin dia bisa bilang begini di wawancaranya dengan Kick Andy beberapa tahun silam: “Saya adalah orang Indonesia. Mau ditembak mati pun saya tetap orang Indonesia”.

Maka saya apun tidak segan mencuit di tweet: “Ahok itu memang Cina, tapi fisiknya doang. Batin dan jiwanya adalah Indonesia. Maka itu saya mendukungnya”, lalu ditutup dengan tagar #saveAhok.

Ketika menyaksikan perdebatannya dengan 2 paslon Gubernur DKI yang lain, saya harus mengakui bahwa Ahok memang sangat lugas, cerdas, dan sangat solid dalam argumen-argumennya. Omongannya selalu logis, didukung data-data yang aktual, dan sulit disanggah, kecuali kalau lawannya tidak mau kalah dan menyerang membabi buta dengan mengabaikan logika.

Adik bungsu saya hijrah ke Jakarta beberapa bulan silam. Saya tanya: “opo ora ngeri hidup di kota yang semrawut kayak gitu?”. “Oh, tidak,” jawabnya. “Sejak ada Ahok, Jakarta sudah lumayan berubah. Lebih bersih, dan lebih tertib kok.” O alah, ya syukur kalau begitu.

Selain dikenal berani dan jujur, ternyata Ahok juga punya selera humor yang baik. Tanpa sungkan dia menari gaya India di salah satu televisi swasta, lengkap dengan kupluk atau sorban merah yang beberapa kali dipegangnya karena nyaris jatuh. Lucu pol. Sudah gitu, selesai menari sang host berkomentar: “Kalau nari India mah gak segitunya lah, Pak, sampai kejang-kejang kayak gitu”. Hahaha.

Wah, dari sini sudah ketahuan nih bahwa saya kesengsem berat sama Ahok. Ah, endak juga. Saya bukan tipe orang yang mudah terhanyut dalam pesona figur orang lain. Kalau itu saya lakukan, nanti saya terjebak pada apa yang dinamakan “cognitive dissonance”, yaitu gejala gegar otak karena ternyata figur yang saya puja puja itu ada juga kelemahannya dan suatu kali ya pasti kelihatan titik lemahnya.

Sebagai manusia biasa, tentunya Ahok juga punya kelemahan. Ya,bukankah ungkapannya yang blak-blakan di Kepulauan Seribu itu yang akhirnya menyeret dia ke depan meja hijau? Sudah gitu, dalam debat pertama pun saya sebagai dosen sempat tersinggung berat karena dia menyindir dosen. Cuma saya akhirnya tidak jadi mengadukannya ke polisi dengan tuduhan penistaan profesi karena saya juga masih sibuk cari sesuap nasi menyiapkan semester genap 2016. LOL.

Sebagai orang keturunan Cina dan Kristen pula, sosok Ahok hadir bukan hanya untuk membuka mata saya dan teman-teman sebangsa yang disebut “pribumi”. Kiprah dan pendiriannya sebagai orang Indonesia pastilah juga telah membuka kesadaran banyak orang etnis Tionghoa di negeri ini yang masih saja dicekam trauma dan kental dengan sikap rasis terhadap orang lain. Masih ada lho saudara-saudara kita setanah air beretnis Tionghoa yang masih sangat rasis, baik secara sadar maupun di bawah sadarnya. Jangan dikira yang rasis itu hanya pribumi saja. Nah untuk orang-orang ini, kiranya sosok seorang Ahok bisa membuka mata mereka bahwa semua warga negara Indonesia–tak peduli warna kulit atau keyakinannya–bisa meneladani sifat jujur, lurus, tangguh, penuh integritas dan nasionalis seperti Ahok.

Jadi, kembali pada judul posting di atas, pertanyaan “Ahok ini Ngapain di Indonesia?” sudah terjawab. Dia hadir untuk menghidupkan harapan kita semua bangsa Indonesia–ndak peduli mau Cina, Jawa, Papua, Batak atau apapun– akan pemerintahan yang bersih, jujur, penuh pengabdian terhadap rakyat, dan kuat menahan kritik maupun godaan.

7 Comments

  1. Pak Basuki memberikan suasana baru di Indonesia. Dia sudah melewati seribu pulau kehidupan (baca: asam garam di Politik dan wirausaha). Jadi beliau sudah kenyang dan membawa perubahan bagi keluarga dan lingkungan Masyarakat.

    Indonesia butuh pemimpin yang punya integritas di masa kini dan akan datang. Jujur, Saya berharap anak muda sekarang, tidak tenggelam ke dalam masalah yang bersifat RASIS dan lebih peka ke permasalah sosial yang ada di lapangan. Kita bersama mencari solusi dan bergerak maju untuk Indonesia lebih baik, bukan hanya Jakarta.

    Saya akan coblos beliau di RI 1 (Pemilihan Presiden Indonesia). Kapan ya?

    • Ya, siapa tahu juga, kan garis takdir bisa mengkhianati logika massa. Hahahaha! Thanks komennya saudari Anymous (BTW, maksud elo anonymous, tah) 🙂

Leave a Reply