Terbang Murah Meriah Kok Bisa Ya?

Dalam satu dekade terakhir ini kita yang suka traveling banyak dimanjakan oleh penerbangan-penerbangan dengan tarif murah. Dulu ndak pernah membayangkan bisa pergi ke Korea dengan biaya tiket murah kan? Sekarang, kita bisa ke beberapa negara di Asia dengan tarif tiket di bawah 10 juta pergi-pulang. Tahun 2014 saya naik Air Asia ke Korea dengan tiket 3,7 juta pergi-pulang. Emejing, bukan?

Kadang terpikir gimana ya maskapai-maskapai penerbangan bisa menawarkan tiket murah meriah seperti itu? Saya mau menuliskan beberapa hal yang menjadikannya mungkin.

Pertama, maskapai-maskapai tersebut umumnya mengoperasikan satu jenis pesawat saja, misalnya Airbus A 320, atau Boeing 737 saja. Keuntungannya, kru mereka mulai dari pilot sampai teknisinya menjadi terbiasa mengoperasikan satu jenis pesawat. Itu artinya biaya pelatihannya menjadi tidak mahal karena tidak perlu mengirimkan mereka ke banyak pelatihan tentang banyak tipe pesawat.

Kedua, mereka biasanya memesan ratusan pesawat terbaru dari pabriknya. Karena belinya banyak, biasanya mereka bisa mendapatkan diskon lebih besar. Juga, pesawat tipe terbaru umumnya juga lebih hemat bahan bakar. Ujung-ujungnya, banyak yang bisa dihemat walaupun kelihatannya mahal di depan. Berkat kiat ini, biaya tiket sebuah maskapai murmer (murah meriah) bisa sepertiganya atau bahkan separonya harga tiket penerbangan konvensional.

Hal berikutnya adalah krunya umumnya masih muda, masih baru lulus dari pelatihan, dan oleh karena itu masih bisa dibayar tidak mahal. Kru nya ini konon juga menjalankan multi peran: seorang pramugari bisa menjadi pengecek tiket di gerbang boarding, sementara rekannya membersihkan pesawat. Ya, tentunya yang beginian tidak bisa banyak-banyak. Kalau pilot ya tugasnya mah menerbangkan pesawat aja (plus mendaratkannya tentu saja); bayangkan kalau Anda naik pesawat ketemu orang yang sama mulai dari yang menghandle check-in sampai yang jadi pilot. Pasti ngeri kan? Hahaha!

Untuk lebih menekan harga, kursi di pesawat murmer umumnya tidak bisa direbahkan (reclined) karena kursi dengan mekanisme ini lebih mahal, dan biaya pembersihannya pun ternyata lebih mahal karena lebih ribet.

Untuk penerbangan yang lumayan lama, disediakan makanan dan minuman di udara. Tapi itu semuanya harus membayar, tidak gratis sebagaimana yang disajikan penerbangan-penerbangan konvensional. Jadi kalau Anda turis dari kalangan rakyat jelata seperti saya, bersiap-siaplah menahan lapar di udara atau bawa sangu makanan yang buanyak supaya tidak kelaparan. Eh, btw, kalau Anda termasuk yang agak takut terbang, percayalah, kalau sudah terbang pasti lupa akan rasa laparnya karena yang selalu kepikiran adalah “ayooo, kapan ini mendaratnyaaa”, gitu. LOL.

Hal berikutnya adalah bandara. Kebanyakan pesawat murmer terbiasa mendarat di bandara kecil, bukan bandara utama. Justru disini mereka bisa memiliki posisi tawar yang lebih kuat karena mereka bisa menawar tarif lepas landas yang lebih murah dari pengelola bandara. “Hayo, kasih saya tarif yang lebih murah; kalau endak saya ndak akan terbang kesitu”. Kalau ndak ada pesawat yang terbang kesitu kan otomatis bandaranya jadi sepi.

Masih terkait dengan hal ini adalah rintisan jalur pariwisata, Maskapai-maskapai murmer yang melayani terbang ke daerah-daerah yang baru akan menarik minat wisatawan kesana. Kenapa? Ya karena murahnya tadi, kan jadi banyak orang yang tertarik untuk mengunjungi daerah itu. Bayangkan sekarang ada Air Asia melayani penerbangan ke Timbuktu dengan tiket 500 ribu rupiyah pergi-pulang. Siapa ndak ngiler? Sudah murah, bisa liat kota yang namanya Timbuktu pula. Asik kan?

Pesawat-pesawat dari maskapai murmer kebanyakan mengoperasikan armadanya non-stop. Setelah mendarat, paling hanya ada jeda sekitar 45 menit sebelum terbang lagi. Nah, ini yang mungkin agak kurang enak bagi mereka yang sangat mementingkan keselamatan. Pesawat yang terbang terus menerus kan ya pasti capek to?

Penerbangan -penerbangan macam begini juga umumnya meniadakan layanan ticketing yang diawaki manusia. Semuanya dari memesan tiket, menentukan seats sampai check-innya dilakukan oleh komputer dan mesin otomatis. Akibatnya, biaya utuk membayari kru tiketing bisa dihemat juga, kan?

Satu hal lagi adalah tidak adanya connecting flight. Connecting flight ini memakan banyak biaya karena ada ongkos untuk kru yang memindahkan bagasi, belum lagi kalau harus melayani penumpang yang ketinggalan connecting flight tersebut. Repot, dan ujung-ujungnya pasti biaya tambahan.

Kalau dikelola dengan baik dan cermat, maskapai murah meriah memang bisa mendapatkan profit sangat besar. Sebagai orang awam, kita bisa meneladani cara-cara kreatifnya menekan harga sekalipun nanti kita bergerak di bidang bisnis yang lain.

Akhir kata, selamat menikmati penerbangan yang murah, meriah, dan harapannya tentu saja semua lancar dan selamat.

Leave a Reply