NLP dan Hypnoterapi untuk Belajar Bahasa O Ya?

Sudah lumrah bahwa untuk suatu pencapaian yang sulit seperti belajar bahasa banyak orang berupaya membuatnya lebih mudah dan lebih cepat. Salah satu di antaranya populer dengan Hypnotherapy. Dari kata itu, sudah bisa ditebak bahwa upaya ini pastilah melibatkan hipnotis untuk membuat belajar bahasa lebih cepat dan tidak sakit. Sakit? Iya, sungguh. Belajar bahasa asing itu sakitnya kayak gigi dicabut. Memang penting,, tapi sakiit. Ya setidaknya perlu kerja keras dan sengsara dulu sebelum bisa menguasai satu bahasa asing.

Hypnoterapi memang diartikan sebagai upaya meraih alam bawah sadar seseorang untuk membuatnya bisa lebih memusatkan konsentrasi ke suatu hal. Jika konsentrasi itu sudah terpusat sedemikian intensnya, maka terjadilah trance atau kesurupan. Kesurupan disini maksudnya bukan lalu jingkrak jingkrak melakukan head banging sambil meracau, tapi benar-benar bisa melakukan sesuatu kegiatan dengan nyaris tanpa upaya keras. Di dunia olah raga, kondisi seperti ini disebut “in the zone”. Ini artinya dia begitu fokus pada sasarannya sehingga semua gerakannya sangat terkoordinir, tangkas, cepat, dan tepat. Jika dia seorang pesepak bola, umpannya akurat, dan tendangannya jitu. Jika dia seorang pemanah, dia akan pas membidik si mata sapi, dan jika dia seorang pembalap, titik ngerem dan gasnya sedemikian akurat sehingga bisa melesat bak angin puyuh.

Dalam dunia pembelajaran bahasa, sudah lumrah diketahui bahwa kebanyakan orang akan merasa grogi, tidak percaya diri, takut salah, dan bahkan gemeteran ketika harus mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing. Ini disebut filter afektif. Semakin tinggi flter afektif itu, semakin parah gejolak emosinya sedemikian sehingga dia tidak mampu berkata-kata atau menulis dengan baik dalam bahasa asing tersebut. Kondisi inilah yang diupayakan untuk mendingin melalui uapaya hypnoterapi. Ketika menjalani sesi hypnoterapi, si pembelajar akan dirogoh alam bawah sadarnya. Begitu alam bawah sadar yang lebih tenang itu mulai aktif, dia akan mengikuti saja pelajaran dari gurunya dengan lebih rileks, lebih santai, tidak lagi cemas atau takut salah. Jika perlu, sesi itu diiringi oleh musik dengan beat tertentu untuk membantu si murid tadi mencapai alam bawah sadarnya dengan lebih mudah.

Jadi, tidak ada metode ajaib tertentu atau media dan materi super canggih yang bisa membantu penguasaan bahasa asing. Metode Hypnoterapi menyasar kondisi mental si pembelajar, bukan teknik pengajaran atau materinya. Sebenarnya justru itu yang terpenting karena diri si pembelajar lah yang relatif lebih menentukan berhasil tidaknya upaya pembelajarannya.

Lalu, ada pula yang populer didengung-dengungkan sebagai NLP. NLP ini ternyata singkatan dari Neuro Linguistic Programming. Tapi jangan keliru. Walaupun ada kata “linguistic” nya, NLP ini tidak semata-mata berkaitan dengan belajar bahasa. Dulu-dulunya ketika diciptakan tahun 1970 an, NLP lebih mengarah ke bidang komunikasi dan kepemimpinan/manajerial. Pada intinya mirip dengan hypnoterapi, yaitu membangkitkan kepercayaan diri seseorang melalui kata-kata dan ungkapan yang positif, menyemangati, dan menguatkan keyakinan diri.

Sayangnya, NLP ini sudah lama ditinggalkan karena tidak didukung oleh bukti-bukti empiris yang meyakinkan. Penelitian-penelitian yang membandingkan antara kelompok yang diajar NLP dengan yang tidak ternyata tidak menemukan perbedaan yang signifikan dalam kinerja mereka. Makanya, di dunia Barat, NLP sudah jarang didengung-dengungkan. Kalau ada di antara Anda yang pernah melihat upaya gencar promosi NLP akhir-akhir ini, ya barangkali itu salah satu upaya untuk membangkitkan kembali ketertarikan terhadap pendekatan ini.

Jadi, bagaimana nih upaya belajar bahasa asing? Yah, ternyata ada hukum besi yang sampai saat ini tetap harus dipatuhi: motivasi tinggi, latihan yang berulang kali, ketekunan, dan keuletan untuk terus mencoba tanpa kenal malu atau takut salah.

Leave a Reply