Gempa Budaya di Gawai Kita

Tanpa kita sadari, jaman sudah berubah banyak. Kemajuan teknologi yang membuat dunia serasa dalam genggaman tangan kita bukan hanya membuat kita berdecak kagum tapi kadang-kadang juga tertegun-tegun. Ternyata, apa yang kita anggap lumrah dan sesuai di jaman dulu sudah bisa berbeda atau bahkan “tidak lumrah” di jaman sekarang.

Bagi generasi Milennial perubahan ini mungkin tidak begitu terasa karena mereka lahir sedikit banyak dengan gen teknologi maju itu. Namun bagi orang tuanya, perubahan itu sangat terasa dan sedikit banyak dirasakan sebagai “gempa bumi lokal” karena drastisnya perubahan dari jamannya dulu.

Tahun 1980-an dan sebelumnya, orang mencurahkan perasaannya dan masalah pribadinya ke buku hariannya. Buku harian tersebut disimpan rapat-rapat. Kala ada seseorang yang tanpa sengaja menemukan dan membaca buku tersebut, si empunya pun marah-marah karena merasa urusan pribadinya diketahui orang lain.

Jaman sekarang? Orang mencurahkan isi hati dan masalah pribadinya ke media sosial di dunia maya dan merasa sebal bahkan marah ketika melihat orang lain tidak memberikan tanda jempol atau menanggapinya.

Ilustrasi tersebut bisa membuat kaum Gendul (Generasi Jadul) tercengang-cengang, sementara Generasi Milennial merasa bahwa ya memang demikianlah adanya. Mencurahkan perasaan, mengungkapkan masalah pribadi, bahkan menyemburkan makian di media sosial sudah dianggap lumrah. Merasa tidak suka? “Ya jangan baca status Facebook saya, dong,” demikian kilah mereka. Ini masih ditambah dengan pembelaan a la deklarasi HAM: “Saya bebas mengutarakan pendapat dan isi hati di media sosial. Kalau tidak suka, ya jangan baca, atau unfriend saja saya. Gitu aja kok repot.”

Jaman dulu, orang menyimpan foto-foto perjalanannya dan kesehariannya di album. Album itu ditaruh di lemari dan kadang kala dibuka dan dilihat-lihat lagi untuk mengenang momen-momen tersebut. Kebanyakan album itu hanya beredar di kalangan keluarga. Jangankan orang dari negeri seberang, tetangga saja tidak tahu isi album tersebut.

Sekarang, bahkan saya pun yang rakyat jelata bisa tahu keseharian seorang sosialita dan tempat-tempat di berbagai belahan dunia yang dia kunjungi. Dengan hadirnya Instagram, Path, dan entah apa lagi di dunia maya sana, semua foto yang dulunya disimpan sebagai koleksi pribadi bisa tersebar luas ke seantero jagad hanya dengan beberapa klik atau “sentuhan mesra” di layar gawai.

Ketika beberapa orang—kebanyakan dari Gendul—menyuarakan ketidaksukaannya akan kecenderungan narsis ini, muncullah ungkapan dari generasi Milennial: “Instagram dan kawan-kawannya itu memang diciptakan untuk pamer! Ndak suka? Ya ndak usah lihat. Unfollow saja saya. Gitu aja kok repot!”

Padahal, tindakan unfollow atau unfriend itu ternyata juga menimbulkan masalah tersendiri, setidaknya bagi kaum Milennial. Ketika mendapati bahwa teman dunia mayanya meng-unfollow dia atau meng-unfriend nya, mereka juga sakit hati. Ketika mendapati bahwa postingnya atau posenya yang dia anggap dahsyat hanya mendapat sedikit jempol, dia mengatakan : “Sakitnya tuh disini”, sambil memegang dadanya.

Lalu dia memutuskan untuk melakukan hal yang sama kepada temannya. Unfollow dibalas unfollow, unfriend dibalas unfriend, dan sang jempolpun langsung pelit untuk dibagikan.

Karena pola pikirnya yang sudah cenderung mau serba cepat, Generasi Milennial pun cenderung tidak mau berproses lama dalam memahami sebuah berita di media sosial. Maka berita-berita palsu (hoax) yang sengaja dibuat oleh kelompok tertentu pun langsung disantap, tidak dicerna matang, tidak dikritisi, dan langsung disebarkan ke penduduk dunia maya lainnya. Yang mendapat kiriman juga bertingkah laku sama: dapat, baca, percaya, sebar. “Harus begitu,” demikian kata mereka. “Kalau masih harus dikritisi dan dicek dulu, yaaah, bakal ketinggalan trending topic. Ini jaman digital, bro. Semua harus cepat!”

Demikianlah, gempa tektonik budaya sedang melanda sebagian umat manusia. Pusat gempanya tidak jauh-jauh dan tidak juga besar: gawai di tangan kita.

Leave a Reply