Efek Mandela (jilid 3)

Rupanya makin banyak yang penasaran tentang Efek Mandela. INi terbukti dari angka stats di blog ini yang menunjukkan banyaknya pembaca yang mengunyah sajian itu. Celakanya, saya pun juga masih penasaran sehingga memutuskan untuk menulis jilid 3 nya ini.

Setelah menulis tentang gejala aneh ini di sini, lalu memberikan sedikit penjelasan lagi di sini, maka jilid ketiga ini akan menukik lebih jauh pada penjelasan yang lebih masuk akal.

Kenapa gejala Efek Mandela terjadi?

Pertama, gejala pembiasaan. Benak yang terus menerus dibanjiri dengan satu bentuk atau ragam informasi tertentu akan cenderung menyamaratakan bentuk tersebut pada informasi-informasi baru yang dijumpainya. Contoh klasiknya adalah film “Berenstain Bears”. Banyak orang meyakini bahwa film itu berjudul “BerenSTEIN Bears”, dan bukan “BerenSTAIN Bears”. Ini karena mereka sudah terbiasa melihat akhiran “STEIN” itu pada nama-nama Yahudi atau tokoh-tokoh lainnya. Contohnya, Albert EinSTEIN”. Karena sudah terbiasa melihat bentuk “STEIN”, maka ketika ada nama tokoh baru yang sebenarnya adalah “BerenSTAIN”, banyak orang membacanya lalu meyakininya sebagai “BerenSTEIN”.

Sesederhana itu.

Apalagi kalau diperkuat dengan media massa yang entah sengaja atau tidak menyebarluaskan bentukan yang sebenarnya salah tersebut. Kalau hampir semua media massa menuliskannya sebagai “BerenSTEIN Bears”, bukankah masuk akal kenapa banyak orang mengingatnya sebagai “BerenSTEIN Bears”, padahal sang pembuatnya lalu menunjukkan bahwa yang benar adalah “BerenSTAIN Bears”?

Kedua, sebagaimana yang sudah saya singgung sedikit di jilid 2, adalah kesalahan dalam mencerap ujaran. Forrest Gump yang aslinya mengatakan “Life WAS like a box of chocolate” didengar sebagai “Life IS like a box of chocolate”. Jadi, ini mah bukan gejala Mandela Effect, tapi gejala kuping epek-epek alias perlu dbersihkan pakai cotton buds supaya lebih akurat dalam mendengar. LOL.

Penjelasan ketiga juga sedikit banyak masih terkait dengan yang pertama. Banyak orang membuat penyamarataan dan anggapan umum tentang bagaimana suatu bentuk seharusnya berbentuk. Contohnya, film kartun “Looney Toons”. Hayo, mana yang benar, “Looney Toons” atau “Looney Tunes”?

Karena banyak orang menganggap bahwa film kartun adalah “Cartoons”, maka tentu saja mereka yakin bahwa yang benar adalah “Looney TOONS”.

Padahal itu salah. Aslinya adalah “Looney TUNES”!

Bahwa banyak orang ngotot Mandela wafat di penjara padahal sebenarnya dia meninggal sebagai manusia bebas juga bisa dijelaskan secara akal sehat. Kemungkinan besar, orang-orang yang beranggapan salah seperti itu telah disetir oleh pendapat media massa yang gencar memberitakan Mandela tewas di penjara. Padahal, media sebenarnya juga belum sampai pada fakta itu, dan hanya membuat dugaan-dugaan atau skenario saja. Tapi inilah kekuatan dahsyat media massa dalam menyetir atau menggiring opini publik. Begitu membaca deraian berita yang berspekulasi atau memprediksi kematian Mandela di penjara itu, mereka lantas meneguhkan suatu keyakinan di pikirannya: Mandela mati di penjara!

Begitulah. Ternyata Efek Mandela tidak lah semusykil atau semencengangkan yang kita kira sebelumnya. Saya pun juga sempat tercengang kok, sebelum akhirnya pagi ini sadar untuk kembali ke jalan yang benar. Wakaka.

Tapi bukankah tidak seru kalau ternyata penjelasannya hanya nggelethek saja? Baiklah, mari kita manjakan fantasi dengan penjelasan yang wow:

Efek Mandela adalah bukti bahwa kita hidup di semesta paralel. Ada semesta lain yang jalan ceritanya lain sama sekali dengan realita yang kita hadapi di semesta kita ini. Disitu, Mandela ternyata meninggal di penjara, Indonesia masih dijajah Belanda, manusia bersahabat atau bahkan perang dengan alien dsb. Kadang-kadang kita terpeleset masuk ke alam paralel itu, lalu masuk kembali ke alam semesta kita ini. Makanya, orang yang pernah terpelset, eh, terselepet, eh, terpeleset ke sana lalu meyakini hal-hal yang aneh-aneh macam Mandela dan Toons tadi.

Jlegeerrrr!!!!

Leave a Reply