Gurunya Enak

Semester kemarin, saya mengajar mata kuliah Grammar 1. Mata kuliah ini diajar oleh dua dosen, dan kelasnya diadakan 2 kali seminggu. Bukunya tebal, sak dhebok, dan seperti bisa Anda bayangkan, isinya pasti membuat muntah karena hanya ada latihan-latihan tata bahasa. Grammar pasti lah bukan pelajaran favorit bagi para mahasiswa. Celakanya, itu mata kuliah wajib dan mereka mau tak mau malu tak malu muntah tak muntah harus mengambilnya.

Menjelang akhir semester, saya secara sekilas bertanya kepada para mahasiswa siapa yang mereka inginkan sebagai dosen pengampu mata kuliah Grammar 2. Di luar dugaan, mereka langsung rame-rame menjawab: “You! Youu! Youuu!”.

Maka saya pun bertanya lagi: “Kenapa kok mau saya ajar lagi?”.

Langsung mereka beramai-ramai menjawab: “Soalnya caranya ngajar enak, pak! Kalau menjelaskan bisa sangat terperinci dan kami bisa memahaminya dengan mudah.”

Ungkapan “gurunya enak” itu memang sudah beberapa kali saya dengar dari mahasiswa-mahasiswa saya di berbagai jenjang. Saya kadang juga tidak habis pikir mengapa saya dianggap enak. Sejauh yang saya rasakan, cara saya menjelaskan ya biasa-biasa saja, malah cenderung terlalu serius.

Saya baru sadar ketika beberapa kali mengikuti ceramah dimana beberapa kolega saya menjadi pembicaranya. Ternyata kemampuan menjelaskan dengan enak tidak dimiliki oleh semua dosen. Ada lho kolega saya yang cara menjelaskannya sungguh ajaib karena pada akhir penjelasannya, setidaknya saya yang mendengarkan bukannya bertambah paham tapi menjadi makin bingung. Memang beberapa orang tidak bisa menyajikan buah pikirannya selaras dengan kecepatan dan urutan pemahaman pendengarnya. Akibatnya penjelasannya serasa melompat kesana kemari, kadang muter sendiri, lalu kembali ke konsep awal, lalu tahu-tahu ada latihan.

Padahal resep menjelaskan dengan enak itu sebenarnya sih tidak rumit: definisikan konsepnya, beri ilustrasi atau contoh sebagai penjelas, lalu ulangi lagi secara singkat, lalu tanyakan apakah para mahasiswa sudah paham atau masih ada yang kurang jelas. Selesai. Itu saja kok. Tapi ya begitulah, ternyata tidak semua dosen bisa mengikuti alur ini. Kadang-kadang mereka belum tuntas mengupas atau mendefinisikan suatu konsep, tahu-tahu sudah menyajikan suatu masalah. Ya bisa dimengerti kalau pendengarnya sulit memahami alur gagasannya.

Kembali ke mata kuliah Grammar 2. Karena biasanya saya tidak mengajar Grammar 2, saya merasa belum bisa memenuhi permintaan para mahasiswa itu. Tapi lantas mereka memohon-mohon: “please, Sir, pleaseeee, ngajar o kami lagi po’o ndek semester depan.”

Ya, dosen mana yang tahan kalau muridnya sudah memohon-mohon seperti itu, ya to. Maka saya pun minta ijin ke Kaprodi: “mohon saya diijinkan mengajar Grammar 2 karena para mahasiswa memintanya.”

Pagi tadi selesai mengajar kelas tersebut, masih terngiang di telinga saya alasan para mahasiswa itu: “gurunya enak!”.

Leave a Reply