GIG ECONOMY

Gig economy. Kata “gig” itu juga unik. Aslinya, kata itu berarti semacam kendaraan seperti kereta atau kursi beroda. Tapi lama kelamaan artinya berkembang menjadi “penampilan di sebuah event kesenian/musik”. Jadi kalau ada yang mengatakan “my band is going to have a gig next week” itu artinya dia mau tampil bermusik minggu depan.

Tapi gig economy tidak ada hubungannya dengan penampilan seni. Gig economy artinya “pekerjaan sementara (temporer) yang bisa dikerjakan oleh seseorang dengan keahlian tertentu di sebuah perusahaan”. Diramalkan bahwa tahun 2020, 40 persen angkatan kerja di US akan berupa orang-orang yang melakukan gig economy ini.

Ada beberapa penyebab munculnya gig economy. Yang pertama adalah dengan makin canggihnya teknologi komunikasi, orang bisa bekerja dari mana saja dan kapan saja, tidak harus dibatasi oleh satu ruang tertentu di sebuah kantor tertentu pula.

Orang yang melakukan pekerjaan disebut sebagai freelancer, sedangkan yang memberi pekerjaan disebut sebagai kontraktor. Freelancer bisa memilih beberapa pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi, waktu, dan seleranya, sementara kontraktor mempunyai lebih banyak pilihan untuk menyelesaikan sebuah proyeknya.

Pikir pikir, konsep seperti ini kan sebenarnya tidak baru-baru amat. Seorang guru privat atau seorang trainer yang dipekerjakan untuk memberi pelajaran tambahan atau memberikan ketrampilan tambahan kan ya bisa disebut sebagai gig economy. Yang membedakan dengan jaman sekarang mungkin cara kerjanya. Jika Anda punya kemampuan akuntansi, Anda bisa dikontrak untuk beberapa bulan oleh sebuah perusahaan besar yang memerlukan penanganan sistem keuangannya. Karena kantor perusahaan itu ada di Jakarta sementara Anda lebih suka di Malang, Anda bisa mengerjakannya dari rumah lewat komputer terkoneksi Internet.

Faktor pemicu lain adalah makin “pelitnya” perusahaan untuk mempekerjakan karyawan tetap. Karena karyawan tetap harus mendapat gaji plus segala macam tunjangan, tentu saja ujung2nya akan memberatkan keuangan perusahaan. Dengan gig economy, perusahaan tetap bisa berjalan tapi tidak perlu mengeluarkan biaya untuk tunjangan karena yang perlu dibayar hanya imbalan untuk sang pakar yang dikontrak selama beberapa bulan saja. Setelah kontraknya selesai, maka perusahaan tidak lagi perlu membayar apa-apa kepada si freelancer. Pesangon tidak, pensiun pun tidak. Perusahaan juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk ruang kantor plus segala macam fasilitasnya mulai dari listrik sampai kebersihan karena semua pekerjaan dikirim via email dan hasilnya pun juga dikirim via email.

Saya pernah kerja seperti ini di era 1998 sampai sekitar 2007. PT HM Sampoerna mengontrak saya selama beberapa tahun untuk menerjemahkan media komunikasi mereka yang bernama Lentera. Saya mengerjakan semuanya dari rumah, berbekal komputer dan koneksi Internet saja.

Idealnya, gig economy ini diinisiasi oleh beberapa freelancer yang menawarkan keahliannya untuk berbagai macam proyek dari perusahan-perusahaan, dan bukan dipicu oleh orang-orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan terus menawar-nawarkan diri untuk melakukan apa saja. Seorang freelancer harus punya kebebasan untuk memilih-milih jenis pekerjaan apa yang cocok dengan kemampuan dan kondisinya.

Leave a Reply