Penganggur

Penganggur adalah orang yang makan anggur. Betul? Ngawur!

Tapi menarik juga kenapa ada istilah “penganggur” yang ternyata tidak ada hubungannya dengan buah anggur. Kata “anggur” memunculkan bayangan anggun, enak, mewah, dan segar, tapi kata “penganggur” berkonotasi malas, sial (karena ga dapat kerjaan), dan akhirnya mengancam karena potensi kejahatan makin besar pada mereka yang berstatus “penganggur”.

Statistik demografi di Indonesia menunjukkan bahwa dari angkatan tenaga kerja, 60% nya adalah lulusan SD, dan sekitar 25% nya lulusan SMP atau SMA. Jadi, sekitar 85% angkatan produktif tidak tamat perguruan tinggi. Lalu, dari sekian banyak tenaga kerja itu, 5% nya menganggur.

Angka-angka ini berimplikasi pada kehidupan sosial. Mereka yang hanya tamat SD – SMA itu dengan sendirinya cupet pengetahuan dan kemampuan berpikir. Maka bisa dimengerti banyak pemakai jalan dari kalangan ini menyetir sepeda motornya dengan ngawur. Mungkin bukan karena mereka sengaja, tapi cara pikirnya yang dangkal tadi membuatnya menganggap jalan raya adalah milik embahnya sehingga main serobot atau mendadak belok atau ngerem atau melanggar rambu-rambu lalu lintas.

Tentunya ini makin diperparah kalau mereka menganggur. Tamatan SMA yang bekerja atau bahkan bisa mempunyai usaha sendiri dan hidup sejahtera juga banyak, tapi gaungnya kalah oleh mereka-mereka yang kemudian mengganggu ketentraman umum dan menimbulkan keresahan sosial. Bayangkan, kalau angka pengangguran mencapai 10%, sebuah negara pasti goyah dan nyaris lumpuh karena angka pengangguran yang tinggi itu lalu ibarat domino berantai jatuh mengimbas ke berbagai aspek sosial masyarakat lainnya.

Seseorang menjadi penganggur kebanyakan karena tidak ada lowongan pekerjaan cukup layak yang mau menerimanya. Kenapa tidak mau menerima? Ya karena hanya lulusan SD, atau paling banter SMA. Kalaupun diterima, mereka pasti kebagian pekerjaan kasar yang disebut “blue collar workers”. Di industri negara maju, setelah otomatisasi pekerjaan menjadi makin gencar dengan masuknya teknologi komputer, tenaga kasar seperti ini juga makin terpinggirkan. Pekerjaan mengangkat barang, memasang sekrup, mengelas sambungan baja dan lain sebagainya sudah bisa dikerjakan oleh komputer. Sementara itu, pekerja yang tersisa adalah yang berpendidikan tinggi. Macam tugasnya pun sudah lebih canggih: merencanakan, mengkalkulasi, merancang desain, mengevaluasi, dan segala macam jenis pekerjaan lain yang masih terlalu canggih atau terlalu tinggi bahkan untuk komputer paling super pun.

Upaya mengurangi tingkat pengangguran tentunya menjadi agenda utama setiap pemerintahan. Maka banyak investasi ditanamkan, infratsruktur dibangun, dan layanan-layanan jasa maupun manufaktur digencarkan sehingga banyak orang usia produktif bisa diperkerjakan. Konsekuensinya? Ya pasti ada. Ancaman rusaknya lingkungan adalah yang paling jelas kelihatan, tapi baiklah itu dipikirkan nanti saja . . . .

Leave a Reply