Ahok akan Kalah dalam Pilkada 2017

Pilkada Gubernur DKI sudah tinggal 2 hari lagi. Pada tanggal 15 Februari 2017, masyarakat Jakarta akan memilih calon pemimpinnya untuk 4 tahun ke depan. Ahok – Djarot akan melawan Anies – Sandiaga dan Agus – Sylvie. Setelah melakukan 3 kali debat, survey Kompas kemarin mengatakan bahwa elektabilitas Ahok masih mengungguli kedua lawannya. Ahok mencatatkan 36 persen, sementara Agus dan Anies masing-masing sekitar 28 persen. Di atas kertas, Ahok masih lebih unggul.

Mungkin banyak pihak yang memperkirakan bahwa Ahok akan memenangkan pilkada kali ini. Namun kalau kita perhitungkan dengan lebih cermat, ternyata para pendukungnya sudah seharusnya ketar-ketir. Ahok masih sangat mungkin bisa tumbang dan kalah menjadi pihak yang kemudian dilupakan bak angin musim semi di musim hujan.

Pada putaran pertama, jika Ahok memperoleh sekitar 60% suara, maka kedua lawannya kemungkinan besar akan berbagi sekitar 20% an. Jika itu terjadi, kemungkinan besar Ahok pasti menang. Namun bagaimana jika dia hanya memperoleh 40% suara? Maka kedua lawannya akan berbagi sisanya, jadi 30% untuk si Agus, dan 30% untuk si Anies. Lalu dimulailah putaran kedua, dan disinilah bencana mengaum: pada putaran kedua, pendukung Agus mungkin akan memindahkan suaranya ke Anies. Karena mendapat tambahan 30%, suara untuk Anies pun melonjak menjadi 60%, dan tamatlah sudah Koh Ahok. Rest in Peace, Koh.

Jadi siap-siaplah untuk menghadapi kekalahan orang yang dijago-jagokan oleh sebagian besar bangsa ini. Ahok bisa kalah. Lho, kalau Hillary Clinton aja bisa kalah oleh Donald Trump yang sinting itu, masak Ahok ndak bisa kalah sama kandidat yang kualitas dan integritasnya jauuh di bawahnya?

Maka Jakarta akan dipimpin oleh orang yang masa lalu ayahnya penuh dengan bayang-bayang proyek mangkrak dimana-mana bernilai trilyunan rupiah, atau oleh orang yang sangat bigot. Apapun itu, kemenangan mereka akan disorak-soraki oleh sebagian penduduk Indonesia yang berprinsip “jangan pilih pemimpin non-Muslim. Haram hukumnya!”. Ini benar-benar dahsyat! Jadi orang-orang ini benar-benar tidak perduli sebobrok atau sekorup apapun pemimpinnya, asal dia Moslem ya pasti akan didukung. Mereka bahkan tidak perduli banyak pemimpin beragama Moslem yang ternyata terjerat kasus korupsi. Masih segar kan ingatan hakim Mahkamah Konstitusi yang ketahuan bermain-main dengan PSK dan menerima suap pengusaha untuk melancarkan surat ijin usahanya? Tidak perduli juga dengan mantan Menteri Agama yang juga terlibat kasus korupsi beberapa tahun yang lalu?

Selamat datang pemimpin jaman kegelapan, jaman jahiliyah dimana kaum minoritas “kafir” akan merasa tertekan lahir batin.

2 Comments

Leave a Reply