Generasi Millennial Istimewa Ah Masa?

Generasi Millenial sedang menjadi trending topic di berbagai media. Kompas hari ini menurunkan setidaknya dua artikel tentang Generasi Millennial ini. Kalau Anda lahir di rentang waktu antara 1983 sampai 2003, nah, Anda termasuk salah satu generasi Millennial itu.

Banyak dari berbagai ulasan itu yang menyiratkan bahwa generasi ini adalah generasi yang istimewa. Mereka sangat dekat dan cakap dalam teknologi informasi. Ketika masih kecil pun mereka sudah secara menakjubkan bisa menguasai teknik menggunakan gadget, mulai dari ponsel sampai akhirnya ke laptop ke smartphone dan mungkin nanti Google Glass. Sepertinya mereka lahir dengan ilmu teknologi sudah tertanam dalam DNA nya.

Generasi Millennial diberitakan terbiasa multitasking, mengerjakan dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang sama. Mereka juga dianggap lebih kreatif, tidak betah berada stagnan dalam satu posisi, dan juga kurang suka berinteraksi secara sosial karena lebih asyik dengan gadget di tangannya. Orang-orang ini sekarang juga membentuk lebih dari separuh tenaga kerja produktif. Artinya, dalam waktu 10 – 20 th ke depan, semua tenaga kerja di berbagai perusahaan dan lembaga adalah sudah Millennial semua.

Pemilik usaha atau pemimpin yang sekarang adalah guru atau orang tua mereka dikabarkan akan menderita sedikit shock ketika mempekerjakan kaum Millennial. Mereka tidak akan betah dengan banyak aturan, terkesan semau gue pokoknya yang penting kerja, kurang unggah-ungguh, dan jangan pernah mengharapkan mereka akan setia bekerja di perusahaan Anda selama berpuluh-puluh tahun. Maksimal 2 tahun, setelah itu mereka bosan lalu pindah ke tempat lain.

Sampai disini generasi Millennial masih bisa berbangga, sampai datanglah seorang pengamat sosial bernama Simon Sinek, yang dengan tajamnya mengkritik generasi ini tanpa bisa dibantah: “Anda terbiasa dianggap spesial! Padahal di mata saya tidak. Anda punya mentalitas instan, maunya serba cepat. Itu mustahil. Anda harus sabar, harus tekun, berusaha dan berjerih payah dulu sebelum bisa menikmati hasilnya. Anda juga membuat hubungan sosial yang aneh, karena semuanya lewat gadget. Mau tahu caranya membina hubungan sosial yang sehat dan manusiawi? Matikan gadget Anda, lau berbincanglah dengan kolega sekantor atau bahkan orang asing yang duduk di sebelah Anda. Begitu caranya kita membentuk jejaring sosial!”

Video klip yang memuat kritikan tajam Simon Sinek itu pun langsung viral di media sosial online.

Apakah mahasiswa-mahasiswa saya juga seperti itu? Kemungkinan besar iya. Namun penelitian saya 2 tahun yang lalu ternyata menelurkan hasil yang mengejutkan: mahasiswa-mahasiswa saya yang jelas adalah Millennial ternyata masih memelihara kebiasaan belajar yang mirip dengan generasi saya: mendengarkan dosen, mencatat, mengulang lagi di rumah, membaca buku teks.

Saya tidak tahu apakah studi saya itu ternyata belum bisa membuka kedok generasi Millenial sehingga menampakkan wajah sesungguhnya. Tapi sedikit banyak saya mulai sadar bahwa jaman memang sudah berubah menjadi sedikit mengerikan. Itu terjadi manakala saya melihat sekelompok mahasiswa berjalan di koridor, masing-masing menenggelamkan diri di gadgetnya. Satu saking asiknya sampai hampir menabrak saya. Raut mukanya seolah mengatakan: “ah, sial lu ah, Pak! Liat-liat dong kalau jalan. Masa ada orang asik gadgetan mau ditabrak!”

Leave a Reply