Passion vs Perut

Kaum Millennials (lahir antara 1983 – 2000) pastilah sedang mengalami pergolakan antara passion melawan perut. Pada satu sisi, mereka ingin bekerja sesuai dengan passionnya (sampai saat ini belum ada terjemahan bhs Indonesia yang pas untuk ‘passion”, jadi biarlah begitu dulu). Tapi di sisi lain, kadang-kadang bekerja sesuai passion itu bukanlah yang bisa memuaskan perut, alias minim menghasilkan uang atau bahkan tidak menghasilkan uang sama sekali. Bayangkan, kalau passion Anda adalah di bidang fotografi. Mana bisa dapat uang dari memotret banyak obyek lalu memajangnya di Instagram? Yang jelas, malah harus keluar duit untuk kameranya dan jalan kemana-mana cari obyek foto yang bagus. Mau bersaing dengan yang sudah profesional, ya pastilah butuh waktu, bisa bertahun-tahun, sementara perut minta diisi segera setidaknya 2 kali sehari.

Akibatnya, banyak orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan ragawinya, sandang, pangan, dan papan, tapi tidak sesuai dengan passionnya. Ada saudara saya yang sangat pintar tentang persepedamotoran. Apapun komponen sepeda motor dia sangat hafal, dan dia bisa memperbaiki sepeda motor jenis apapun. Tapi dia bekerja sebagai tenaga administrasi yang tidak ada hubungannya dengan sepeda motor. Artinya, passion dia di sepeda motor, tidak di bidang admin. Tapi karena mungkin belum berani buka usaha sendiri di bidang bengkel atau aksesoris sepeda motor, jadilah dia bekerja di bidang yang sebenarnya bukan minat utamanya.

Teman sekelas saya juga punya bakat luar biasa sebagai seniman. Ketika masih mahasiswa, karya poster dan spanduknya luar biasa, dan dipuji banyak orang. Tapi passion inipun tidak lantas menjadi lahan penghidupannya karena ada jalur lain yang lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Maka dia pun menjadi trainer, mendapatkan nafkah disana, dan makin lama makin tidak punya waktu untuk passionnya di bidang seni tadi.

Begitulah. Segelintir orang seperti Steve Jobs, Bill Gates, atau Rowan Atkinson dan beberapa pemusik mungkin sangat beruntung karena passion mereka juga menjadi lahan nafkah mereka. Tapi yang beruntung seperti ini tentulah hanya segelintir. Banyak manusia lain yang terpaksa mengorbankan passionnnya karena kebutuhan perutnya.

Passion saya sebenarnya juga potensial merugi kalau dijadikan lahan mencari nafkah. Saya suka menulis. Tapi karena orang banyak tidak butuh membaca tulisan untuk bisa hidup, maka tentu saja saya tidak dapat mengandalkan tulisan saya untuk hidup layak. Untunglah bahwa pekerjaan sebagai guru saat ini masih relatif menggetarkan, dan toh saya masih bisa menulis sekalipun tulisannya sangat ilmiah dan kering. Apakah saya lalu berhenti menulis? Ternyata tidak juga. Dengan hadirnya blog secara cyber, saya bisa menulis banyak, tidak perduli tulisan saya dibaca atau tidak. Lha hari ini dan kemarin aja saya sudah menulis berapa posting di blog ini? Ada yang dibaca ada yang endak. Ya tidak papa.

Jadi, kesimpulannya, perut menang dan passion harus tersingkir? Mungkin tidak begitu juga. Saya ingat pernah menonton biografi seorang pemotret terkenal. Dia mengatakan bahwa dia berhenti dari pekerjaannya sebagai orang kantoran lalu memutuskan untuk menekuni passionnya di bidang fotografi. “Yah, tahun-tahun pertama sih ndak ada uangnya, malah harus merugi,” ceritanya. “Tapi makin lama, saya makin dikenal orang banyak, dan akhirnya saya bisa hidup layak dari hobi saya sebagai fotografer ini.”

Hidup maha adil. Passion mungkin agak tersingkir, tapi sejatinya dia tidak pernah padam, dan suatu saat akan kembali menyala dan Anda sudah punya waktu dan peluang untuk makin mengobarkannya.

Leave a Reply