Budaya Pasif

Hadirin pasif adalah suatu pemandangan yang umum dijumpai di forum-forum akademik di negeri ini. Setelah suatu presentasi, moderator atau dosen akan mengundang hadirin untuk bertanya. Kebanyakan hanya beberapa gelintir orang yang mengacungkan jari untuk bertanya sesuatu. Sisanya, diam.

Kita juga kurang tahu apakah diamnya itu berrarti sudah mengerti, atau tidak mengerti, atau tidak tertarik, atau tertarik tapi sungkan untuk bertanya. Itu akan tetap menjadi misteri.

Beberapa tahun yang lalu saya masih sangat mengkritik kebiasaan pasif di kalangan hadirin ini. Namun sekarang nampaknya saya harus berupaya menyelami sedikit lebih dalam alasan di balik sifat pasifnya orang Indonesia.

Salah satu kemungkinan adalah mereka sudah sangat memahami penyajian sang presenter. Kalau sudah sangat paham, lantas kenapa harus repot-repot bertanya?

Ya, benar juga argumen ini. Kalau memang sudah mengerti, kenapa harus bertanya? Ya lebih elok diam saja to?

Kemungkinan kedua, mereka sebenarnya merasa kurang jelas akan satu atau dua bagian, atau ingin mengomentari satu dua hal yang dirasa kurang tepat, tapi malu untuk mengungkapkannya. Malu takut dianggap sok pintar, atau malu dianggap tidak tahu apa-apa.

Malu. Luar biasa daya tekan psikologis budaya di Indonesia ini. Bagaimana sekelompok orang bisa secara kolektif menyepakati bahwa orang yang bertanya adalah yang sok pintar, atau yang lambat mengerti. Bagaimana pula seorang yang kritis dan vokal langsung merasa bahwa kedua hal tersebut akan digunakan untuk menghakiminya ketika dia memberanikan diri untuk bertanya. Kesadaran kolektif ini tidak usah dibicarakan secara terbuka tapi pasti akan disepakati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Bagaimana bisa, bersepakat akan suatu hal yang menghambat tanpa berbicara dulu satu sama lain? Luar biasa, bukan.

Kemungkinan ketiga, tidak tertarik. Ya, kalau ini memang wajar bisa menyebabkan hadirin menjadi pasif. Kalau memang mereka tidak merasa bahwa topiknya menarik, lha untuk apa bertanya?

Apapaun itu, sebagai dosen saya harus berkali-kali mendorong mahasiswa di kelas-kelas seminar untuk aktif bertanya. Pertanyaan mencerminkan pikiran kritis. Pertanyaan mencerminkan ketertarikan terhadap suatu isu atau topik yang sedang disajikan. Pertanyaan memberi kesempatan penyaji untuk lebih introspektif terhadap materinya. Pertanyaan, dalam batasan kesopanan dan keinginan untuk berbagi, bisa membuka sedikit perdebatan yang pada ujungnya membawa pencerahan atau pemikiran alternatif.

Banyak yang bisa diperoleh kalau hadirin menjadi aktif bertanya dan berdiskusi. Itu sebabnya di dunia pendidikan sudah harus ditanamkan kebiasaan berdiskusi, bahkan sedikit berdebat. Masyarakat dengan kualitas berpikir yang tinggi sudah pasti bukan yang merasa sudah paham, tidak tertarik, atau merasa malu dalam bertanya.

Leave a Reply