Bahagia di Hari Tua



Usia 20.

Keinginanku hanya tiga: selesai studi, dapat kerja, lalu menikah.

Usia 30.

Lulus sudah, menikah sudah, bekerja sudah, alangkah senangnya kalau bisa menjadi pejabat.

Usia 40.

Makin lengkap pencapaianku. Sandang, pangan, papan sudah tersedia. Jabatan pun sudah beberapa tahun kujalani.

Tersisa satu pertanyaan di benak: apakah aku sudah bahagia?

Ternyata tidak mudah menjawab pertanyaan sesederhana itu. Apa yang kuimpikan ketika memasuki usia 20 dan 30 dan akhirnya kudapatkan di usia berikutnya ternyata belum senantiasa menjawab pertanyaan itu. Kebahagiaan adalah sesuatu yang rumit, tidak sesederhana urusan menyeduh kopi atau bahkan memenangkan permainan catur. Kebahagiaan tidak sesederhana hitam putihnya papan catur atau skak mat nya salah satu raja.

“Pastikan ada uang, dan kebahagiaan akan datang mengiringinya,” demikian petuah seorang teman senior.

“Uangmu akan mampu membeli rumah, tapi tidak mampu membeli kebahagiaan,” seorang bijak berkata lain.

“Aku harap semua orang akan menjadi terkenal dan kaya, sehingga mereka akan sadar bahwa bukan disitu letaknya kebahagiaan,” pelawak terkenal Jim Carrey menimpali.

Maka memang sungguh tidak mudah menentukan apakah aku bahagia atau tidak.

Seiring dengan waktu, aku pun makin menua. Dalam perbincangan dengan beberapa kakak kelas di sebuah acara reuni, aku saksikan beberapa kakak kelasku sudah masuk usia pensiun. Ternyata banyak di antaranya yang tidak siap secara mental maupun finansial di usia tersebut.

“Masih ingat si Badu?” tanya seseorang. “Dulu kan dia terkenal pintar dan bekerja di tempat penuh dengan proyek besar berlapis dollar. Tidak menyangka hidupnya sekarang susah. Dia belum siap secara mental menghadapi masa pensiun. Terlebih lagi, dia nampaknya tertekan karena tidak bisa lagi bergaya hidup seperti dulu. Tabungan masa tuanya makin tergerus untuk membiayai kesehatannya yang makin menurun.”

“Oh, itu belum seberapa,” timpal seorang teman lain. “Masih ingat si Jones, pelawak dari angkatan di atas kita itu? Kabarnya sekarang memprihatinkan. Dia sakit TBC parah, dan makin ndak ada biaya untuk mengobatinya.”

Terbayang kakak kelas yang dulu selalu mengundang tawa sekarang terbaring sakit-sakitan dengan badan makin mengurus didera penyakit.

Beberapa teman lagi menjalani masa tuanya dalam kondisi tidak separah keduanya, namun kabarnya mereka juga tidak bahagia karena makin tergantung secara finansial kepada anak-anaknya yang juga belum sepenuhnya mapan.

Ketika usia mulai menua dan akhirnya memasuki masa purna tugas, hanya ada satu yang berhenti: kewajiban bekerja. Selain itu, semuanya tetap berjalan seperti biasa. Makan tetap harus tiga kali sehari, badan tetap harus dijaga dengan vitamin dan olah raga, dan yang paling penting pikiran tetap harus berjalan agar tidak mandeg lalu hidup bagai tumbuhan.

Semua itu memerlukan uang sebagai penopangnya.

Maka pertanyaan sederhana di atas tadi terjawab lah sebagian. Untuk bisa hidup bahagia di hari tua, aku harus memastikan ada dukungan dana. Dana itu tidak harus sangat besar, namun harus cukup untuk membiayai kehidupan sederhana namun tetap layak di masa tua nanti.

Maka ada saat dimana aku mencermati satu persatu rincian penghasilan yang kuterima setiap bulan dari lembaga tempatku bekerja. Ada satu yang melegakan disitu: Tunjangan Hari Tua. Ketika kutelisik makin dalam butir tersebut melalui bagian Sumber Daya Manusia, mereka memberikan penjelasan yang intinya mengarah pada penjaminan kesejahteraan mantan pegawai di hari tuanya setelah pensiun.

“Semua karyawan berhak mendapatkan fasilitas Jaminan Hari Tua,”demikian mereka menjelaskan. “Perusahaan memang tidak bisa memberikan uang pensiun, namun tetap mengikutkan karyawan aktifnya ke program penyedia jaminan pensiun.”

Penyedia layanan jaminan hari tua itu adalah satu lembaga pemerintah. Memang beberapa tahun belakangan sering kudengar namanya, namun baru kali ini aku menyisihkan waktu cukup panjang untuk mencermati kiprah dan rincian layanannya.

Ternyata dana yang sebagian diambilkan secara rutin dari penghasilanku itu diolah oleh lembaga tersebut secara cermat sehingga menghasilkan nominal rupiah yang cukup besar. Pada satu tahap tertentu di usia produktifku, aku berhak mengambil akumulasi jumlahnya.

“Jumlah segitu pasti tidak cukup kalau aku mau hidup seratus tahun lagi,” kataku suatu pagi kepada seorang teman. “Namun itu bisa kugunakan sebagai modal untuk memulai usaha yang bisa kujalankan penuh setelah pensiun.”

“Memangnya kamu mau kerja apa yang menghasilkan uang setelah pensiun?” tanyanya.

“Ini jaman modern, bro,” jawabku. “Dengan makin canggihnya teknologi komputer dan informasi, makin banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di dunia cyber. Dulu jaman bapak ibu kita masih muda, ndak terbayang kan ada pekerjaan mengisi angket online bisa mendapat duit? Atau menjadi pengajar kursus online? Atau menulis blog laris seperti di blog ini?”

Demikianlah. Hari tua memang akan datang. Mau tak mau, malu tak malu, kita semua akan menyongsongnya. Ketika beban pekerjaan formal beserta tanggung jawab yang melekat padanya sudah lepas, masih tersisa sekian belas tahun ke depan atau bahkan sekian puluh tahun ke depan, jika Tuhan berkenan, untuk tetap meneguhkan eksistensi. Selama hayat masih dikandung badan, selama itu pula keinginan untuk hidup bahagia selalu ada. Mungkin memang benar ungkapan sang bijaksana bahwa uang tidak menjamin kebahagiaan, namun tak bisa dipungkiri bahwa ketersediaan dana yang cukup memberikan jaminan dan fondasi untuk mengokohkan sendi-sendi penopang hidup layak.

“Wah, saya masih muda, Pak,” demikian komentar seorang muda usia 20 an tahun. “Belum saatnya memikirkan pensiun.”

“Yah, memang belum sekarang,” jawabku. “Sekarang waktunya untuk berlari sekencang-kencangnya menggapai impian dan mereguk keberhasilan. Namun, ketika itu semua sudah terlampaui, kamu juga pasti akan menua kan?”

“Ya, iya lah, Pak.”

“Pasti masih ingin hidup layak dan bahagia kan?”

“Aha ha, ya iya lah, Pak.”

“Bagus. Jadi bacaan ini untuk kamu juga, anak muda.”

Leave a Reply