Sehat di Hari Tua

Usia 40, dia adalah figur yang paling ditakuti di rumah. Cara mendidiknya keras, tegurannya keras, dan hukuman yang dia berikan pun keras.

Usia 50, dia adalah figur yang mulai mau mendengarkan suara anak-anaknya. Suara dan tegurannya yang keras dan acap kali tidak bisa dibantah lambat laun berganti menjadi suara yang bijak dan penuh nasehat, sekalipun tetap ada kemantapan—kalau tidak boleh dikatakan kekakuan– dalam berprinsip.

Lalu waktu pun seolah bergulir makin cepat. Usia 60 dan 70 dijelangnya begitu saja. Mendadak saya tak lagi melihat figur bapak yang berangkat kerja jam 8 dan pulang kantor jam 4 sore. Sehari-hari dia di rumah. Kadang masih terkesan betapa dia ingin tetap berkiprah. Tapi itu sudah tidak mungkin. Ayahku sudah pensiun.

Untuk seorang anak, melihat orang tuanya menjadi makin tua merupakan pengalaman yang sarat dengan berbagai emosi. Dari rasa takut akan kegalakannya mendidik di masa muda, lalu berangsur menjadi makin hormat dan sedikit kasihan melihatnya pensiun, dan yang terakhir adalah makin prihatin atas kesehatannya.

Tahun ini ayahku 81 tahun.

Badan yang dulu tegap itu makin ringkih. Jalannya yang dulu mantap sekarang agak terhuyung, kesana kemari dibantu tongkat. Matanya senantiasa kelihatan berair. Jalaran keriput makin menegas di wajahnya. Beberapa giginya yang sudah tanggal menampakkan senyum renta yang ompong bak tank tua tanpa roda di sudut museum.

“Parkinson, ginjal bocor, dan ada sedikit gangguan di jantung. Lutut kadang goyah tak kuat menahan tubuh. Ada sedikit katarak di mata,” demikian ayah menguraikan jenis penyakitnya dengan kalem, seolah sedang membacakan daftar tugas.

Bergidik. Itulah yang aku rasakan mendengar datar penyakit yang merongrong tubuh ayahku. Pikiran pertama yang datang tentu saja adalah bagaimana caranya mengobati ke semua penyakit itu.
“Tapi penyakit-penyakit ayahmu seram semua,” ungkap seorang kenalan. “Pastilah butuh banyak biaya untuk mengobatinya satu persatu.”

Ingatan melayang ke salah seorang paman yang hidup di sebuah negara di Eropa. Dalam usia yang juga mulai menua, jaminan kesehatan yang dimilikinya membuat paman itu hidup relatif lebih sehat sekalipun harus mulai berjuang mengatasi seranagn diabetes dan beberapa penyakit serius lainnya. Sebagai salah satu negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi, negara yang didiaminya menyediakan jaminan kesehatan gratis bagi penderita sakit, terutama mereka yang sudah berusia lanjut.

Tapi di negeri ini, umumnya para manula akan tinggal bersama salah satu anaknya, atau di rumah jompo, lalu digerogoti berbagai penyakit dengan kemampuan minim untuk membiayai pengobatannya, dan akhirnya meninggal dalam usia tua.

Suatu ketika ayah harus menjalani operasi katarak. Setelah mata kiri, lalu mata kanannya. Setelah itu, beberapa minggu kemudian dia masuk rumah sakit karena mendadak lemas ketika sedang berjalan-jalan.

Dalam kondisi seperti itu, akan payahlah kalau biaya pengobatan ditanggung keluarganya sendiri. Untunglah negara ini mau bersusah payah menyediakan layanan BPJS. Program ini mampu meringankan semua biaya pengobatan itu sampai setengahnya. Yang saya dengar memang defisitnya masih sangat besar, tapi semoga bisa teratasi karena dibantu dengan doa dan ucapan terima kasih dari orang-orang yang sakit, terutama yang sudah lanjut usia seperti ayah saya.

Leave a Reply