Awas, Karyawan dengan Bibit Buruk

Manusia memang tidak serendah monyet, tapi kadang-kadang kelakuan dan cara pikirnya membuat saya lebih suka punya karyawan monyet daripada manusia.

Di sebuah lembaga, ada peraturan bahwa ketika masuk kerja di pagi hari dan pulang kerja di siang hari setiap karyawan harus melakukan perekaman sidik jarinya di mesin fingerprint. Data sidik jari masuk dan pulang itu menunjukkan bahwa dia hadir dan bekerja penuh pada jam kerja yang telah ditetapkan.

Tapi ada saja karyawan yang kepalanya selalu dipenuhi pikiran culas yang berusaha bagaimana mengakali sistem itu. Maka, suatu ketika dia masuk pagi hari, melakukan finger print, kemudian diam-diam pulang atau ke luar kantor tidak tahu kemana. Lalu mendekati jam pulang, dia akan kembali ke kantor lalu melakukan finger print kepulangan. Dengan demikian, data kehadirannya penuh karena finger printnya juga penuh. Untunglah ada seorang yang jeli mengamati tindak tanduknya, dan setelah beberapa kali melakukan hal itu tanpa ketahuan, akhirnya terungkap juga kecurangan yang dia lakukan.

Pada episode lain, karyawan ini dideteksi sedang berusaha membuat bon-bon pembayaran palsu supaya dana dari pemerintah yang telah diberikan kepadanya bisa kelihatan terpakai habis, padahal uang sisa itu akan diambilnya sendiri dan kemudian dibuat berpesta pora dengan konco-konconya atau mungkin selingkuhannya.

Ketika tiba saatnya melakukan penghitungan kerja, karyawan berakal licik ini menyodorkan sebuah daftar pekerjaan dengan bobotnya masing-masing. Data dalam bentuk Excel itu dibuat sedemikian rupa sehingga jumlah totalnya kelihatan besar sekali. Padahal, setelah atasannya menghitung ulang, ternyata ketahuan ada penghitungan dobel disitu. Jumlah yang sudah total ditotal lagi sehingga hasil akhirnya fantastis. Tentu saja dengan bobot sebesar itu, perusahaan akan harus membayarnya jauh lebih besar. Untung atasannya jeli sehingga bobot itu langsung dipangkas sampai menyusut drastis.

Masih tentang kelicikan karyawan dalam mengakali peraturan tempat kerja: pada beberapa tahun terakhir, lembaga itu mengubah peraturan jam kerjanya. Kalau dulu harus masuk jam 7 dan pulang jam 4, maka sekarang boleh masuk semaunya dan pulang juga semaunya asalkan jumlah kehadiran di kantor tetap 40 jam. Ini ibarat sasaran empuk untuk karyawan yang memang sudah culas: mereka mengusahakan supaya pelayanannya terhadap klien dimulai lebih awal sampai jam 6 pagi, sehingga bisa pulang lebih awal. Sekilas memang tidak merugikan, namun karena banyak karyawan yang melakukan seperti itu, urusan teknis dan logistik untuk pelayanan di pagi hari menjadi sangat padat. Lebih buruknya, mereka jadi ogah melayani pelanggan yang kebetulan hanya bisa datang siang. Kalau pelanggan merasa kecewa, akhirnya reputasi perusahaan juga yang kena.

Itulah manusia. Memang konon mereka ini berakal budi lebih tinggi daripada monyet. Namun akal budi tinggi tanpa dilengkapi dengan akhlak yang baik akhirnya membuat mereka cacad moral, atau setidaknya akan dikenal licik, culas, dan tidak jujur. Jangan tertipu oleh penampilan mereka. Itu tuh, karyawan yang saya ceritakan di bagian awal, aduuh, penampilannya sangat anggun, sopan, ramah, bahkan gelarnya pun tinggi! Rajin beribadah, rajin sembahyang. Tapi orang kayak gini itu benar-benar patut diwaspadai. Dia culas, licik, dan selalu mencari peluang untuk mengakali peraturan.

Kadang saya berpikir kok mereka itu kayak ndak ada terima kasihnya sudah dipekerjakan di lembaga tersebut. Kenapa pikiran yang sejatinya merupakan karunia Tuhan itu digunakan untuk melakukan penipuan, akal-akalan, manipulasi data, dan tindakan lain yang pada intinya tidak jujur? Kejujuran. Ini ternyata sangat penting. Sekali terungkap bahwa Anda tidak jujur, jangan salahkan orang lain kalau mereka sulit mempercayai Anda.

Kejujuran itu salah satu ciri integritas pribadi. Orang yang tidak jujur, apalagi yang seperti sudah terbiasa berpikir culas dan licik, tidak punya integritas. Ibarat mesin, komponennya kececeran dimana-mana, tidak integrated. Maka orang seperti ini sulit diandalkan untuk membawa lembaga menjadi lebih maju. Kalau diserahi tangung jawab menjadi pemimpin, celaka! Ibarat virus komputer, dia akan melakukan perusakan lebih masif karena anak buahnya akan diajak curang, atau dia akan mengintimidasi mereka yang masih jujur.

Memang hidup ini kompleks. Selalu ada manusia-manusia berakhlak rendah dan tidak jujur seperti itu di perusahaan atau lembaga manapun. Pemimpin lembaga atau pemilik perusahaan harus waspada betul dengan sikap seperti ini. Beberapa orang memang dilahirkan dengan bibit busuk di DNA nya. Di jaman yang sudah ribet dan sarat masalah ini mungkin sebaiknya begitu ketahuan mereka langsung disingkirkan saja daripada melakukan pembusukan di dalam.

Leave a Reply