Train to Busan, Serasa Terdampar di Batu Nisan

Saya bukan penggemar K-Pop atau K-Drama. Maka posting saya tentang sebuah film Korea berjudul “Train to Busan” ini adalah semata hasil kebetulan yang kemudian berujung pada sengsara membawa nikmat. Ini film bagus. Kalau bicara soal after taste, setelah menontonnya kita pasti akan termangu-mangu lama ibarat burung gagak hitam yang kecapekan lalu terpekur di atas nisan.

Film ini mengisahkan seorang fund manager muda, namanya Seok-Woo, dan putri kecilnya Soo-An yang suatu ketika menyaksikan gejala aneh sebelum mereka naik kereta. Sesaat sebelum kereta berangkat, seorang penumpang gelap memasuki salah satu gerbongnya tanpa ketahuan sang pengawas kereta atau pramugaranya. Penumpang itulah yang kemudian membawa bibit masalah ke atas kereta tersebut.

Di dalam kereta itu juga ada sepasang suami istri muda, Ma Dong-Seok dan Sung Gyeong. Si istri sedang hamil, dan mereka secara kebetulan bertemu dengan Soo-An ketika antri kamar kecil.

Sementara itu, sang penumpang gelap tadi mulai menebarkan bibit masalah yang mengerikan. Dalam waktu singkat, banyak korban berjatuhan di atas kereta itu, dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Suasana panik ndak karu-karuan nyaris memisahkan sang ayah dengan putri kecilnya. Namun untung keduanya bisa bertemu kembali, kali ini dengan pasangan suami istri muda tersebut dan dua orang siswa SMA, satu cowok namanya Young-Gook dan Han JiEun. Mereka berjuang antara hidup dan mati melawan gejala mengerikan tersebut. Sampai disini ketegangan yang akut membuat kita pasti sulit melepaskan pandangan sekejap pun dari layar.

Kengerian makin bertambah ketika orang-orang yang tadinya biasa-biasa saja mulai kelihatan sifat egoisnya dan tak segan mengorbankan orang lain asal dirinya sendiri selamat. Terjadi pula dialog-dialog singkat yang memaksa kita tersenyum kecut karena tersindir. Misalnya, si Ma Dong-Seok bilang kepada Seok-Woo: “Kamu fund manager ya? Kamu tuh pasti sudah terbiasa meninggalkan mereka yang sudah ndak ada manfaatnya. Ya nggak?”

Kereta berjalan terus. Celakanya, semua stasiun menolak kedatangannya karena dianggap membawa bibit penyakit mengerikan. Satu-satunya stasiun yang masih aman dan bisa mengijinkan mereka bebas adalah stasiun Busan. Namun perjalanan masih jauh, sementara kengerian di atas kereta sudah nyaris merenggut nyawa semua orang dengan cara mengerikan.

Sebagai penonton, kita merasa tercekam dan berempati sangat kepada ketujuh orang yang masih selamat itu. Film ini dengan bagus menyusun ketegangan dan alurnya sehingga ketika nyawa mereka terancam, kita merasa sangat miris seolah-olah nyawa kita sendiri yang sedang dibetot. Si gadis kecil dan wanita hamil itu membuat kita makin meregang ndak karuan setiap kali mereka terancam, karena ya kasihan kan anak kecil dan wanita hamil bisa dibegitukan? Kalau kita nontonnya sambil makan pop corn, niscaya pop corn itu jadi berasa kayak kerikil dan toh kita akan tetap menatap layar saking menegangkannya adegan demi adegan untuk berjuang hidup itu.

Ada satu lagi tokoh, yaitu masinis kereta yang dengan keras berjuang membawa keretanya ke Busan dan menyelamatkan mereka yang masih bertahan. Diperankan dengan sangat baik oleh Seok-yong Jeong, kita merasa simpati betul dengan tokoh yang sederhana, berwajah biasa, tapi sangat dedikatif ini. Adegan dimana dia lari-lari sendirian dengan panik di sebuah stasiun yang sudah sepi penuh bau anyir darah dan kematian adalah adegan yang buat saya pribadi sangat menohok. Ketika dia akhirnya menemui nasibnya yang tragis, kita seolah merasa ingin melayat ke pemakamannya. Sungguh . . .

Empat dari ketujuh orang tadi satu persatu tumbang ditelan sang maut dengan cara yang sangat mengerikan. Terisalah sang ayah, sang putri kecilnya, dan sang wanita yang sedang mengandung tersebut. Ketika mereka sudah naik kereta lain ke Busan, maut masih mengintai dan kali ini sang ayah yang menjadi incarannya. Sang ayah berjuang setengah mati, berdarah-darah, disaksikan putri kecilnya yang menangis memilukan melihat papanya di ambang maut. Nah, sampai disini, tepatnya pada 1 jam 50 sampai 1 jam 58 menit, Anda yang mudah terharu lebih baik berhenti menonton. Ini karena adegannya sungguh menjadi sangat mengharukan dan Anda niscaya akan mengucurkan air mata atau setidaknya merasa sangat terenyuh. Saya membatin: “Pantas drama Korea begitu digilai di negara Indonesia ini karena memang caranya mengaduk emosi sehingga kita meratap-ratap minta ampun sungguh keji dan jenius”. Ha ha ha, eh salah, hu hu hu!

Sampailah kereta itu di perhentian terakhir. Sang wanita dan si gadis kecil tadi terseok-seok menyusuri rel, masuk ke sebuah terowongan besar. Di ujung terowongan, beberapa ratus meter darinya, dua tentara bersiap dengan senapannya.

“Tembak,” perintah sang komandan.

Dengan sangat berat hati sang serdadu yang memegang senapan mengarahkan laras senapannya ke kepala sang wanita. Garis silang di teropongnya sudah berada pas di kepala sang wanita, dan jarinya yang bersiap di pelatuk . . .

Anda akan memarahi saya kalau saya selesaikan kalimat di atas itu karena itu sama saja membunuh rasa penasaran Anda. Makanya, supaya tidak penasaran, tonton saja filmnya. Lalu Anda akan mengerti kenapa judul posting ini adalah seperti di atas itu 🙂

*) Terima kasih kepada Lindawati Hermawan, lulusan Ma Chung yang kebetulan melihat posting saya sebelumnya tentang “Bitter Moon” lalu menyarankan film ini kepada saya.

Leave a Reply