LSD dan Marijuana: Kenapa Tidak?

Baru-baru ini saya agak terperangah dengan satu wacana yang bergulir di beberapa media massa. Topiknya adalah perdebatan apakah sebaiknya melegalkan narkoba atau tetap menganggapnya barang terlarang dan menghukum keras para pengguna dan pengedarnya. Mereka yang mendukung pelegalan narkoba mengatakan bahwa di beberapa negara Eropa narkoba itu sudah dilegalkan walaupun penggunanya harus berada di bawah pengawasan dokter. Bahkan teman baik saya di Facebook terang-terangan mendukung pelegalan narkoba. Yang lebih mengejutkan, mantan mahasiswi saya juga mengatakan terus terang bahwa dia mengkonsumsi marijuana (dia tinggal di Amrik). Saya tanya: “lho kalau kamu kecanduan terus bagaimana?” Jawaban kedua teman tadi senada: “kalau kecanduan ya sudah diam-diam aja, ndak bakal mengacau kok”. Ah masa?

Saya menyimak dengan cermat cerita seorang pengguna LSD. Nama lain untuk LSD ini adalah “acid”, karena memang berasal dari asam lysergic sebuah jenis tanaman jamur. Begitu mengkonsumsi LSD, terjadilah reaksi fisik yang mendebarkan. Pertama, badan terasa panas dan keluar keringat dingin. Lalu kebelet berak. Begitu selesai buang air besar, maka dimulailah reaksi yang lebih dahsyat lagi.

Dia mengatakan kulitnya menjadi lebih sensitif. Lalu semua barang yang dilihatnya bisa kelihatan lebih lebar dan lebih jelas. Ketika dia melihat wajahnya sendiri di cermin, wajah itu bisa kelihatan mengembang lalu menyusut, berulang-ulang. Warna-warna menjadi lebih terang, dan berpendar-pendar. Namun pada saat yang sama, matanya menjadi terasa sakit ketika melihat cahaya lampu. Suara-suara menjadi kedengaran bergaung, seolah-olah dia sedang berada di sebuah ruangan besar dan suara orang – orang yang sedang bercakap-cakap menggema di sekitarnya.

Yang lebih dahsyat adalah reaksi mentalnya. Dia mengatakan, pikirannya mulai sulit mengikuti alur waktu. Dia bisa merasa bahwa apa yang sedang dilakukannya sekarang adalah awal dari tindakan selanjutnya tapi juga merupakan akhir dari rangkaian tindakannya. Membingungkan sekali.

Tahap selanjutnya, dia merasa bahwa otak dan egonya berhenti bekerja, dan dia merasa bisa merasakan keberadaannya terkoneksi dengan benda-benda dan orang di sekitarnya. Dia bisa merasa terhubung dengan seisi alam semesta. Ini lah titik kritis yang membuat seorang pecandu acid sulit sekali melepaskan ketergantungannya dari zat ini. Dengan matinya ego dan pikirannya, dia lalu merasa damai. Karena merasa menyatu dengan seisi alam semesta, perasaan tenang, gembira, dan damai itu pun makin menjadi-jadi. Bukankah ini yang dinamakan surga? Para mistis dan spiritualis sudah sering mencapai kondisi seperti ini. Bedanya, mereka mencapainya lewat meditasi, sementara pemakan acid mencapainya lewat zat LSD tersebut.

Tidak berlebihan kalau ada lelucon yang mengatakan bahwa kalau sesama pengguna LSD bertemu, maka akan terjadi suasana mirip halal bi halal, karena mereka akan saling memeluk, bersalaman, dan tertawa-tawa. Astagaa!

Efek seperti ini bisa berlangsung selama 12 jam. Dua belas jam dibuai kenikmatan damai seperti itu, dengan ego dan pikiran yang penuh prasangka dan kecemasan mati. Tidakkah Anda ingin mengalaminya? Tidakkah kita ingin pergi kesana?

Apakah LSD membawa sejahtera? Mari kita lihat fakta berapa artis yang mengalami kemunduran drastis karena terjebak dalam pengaruh LSD. Jelas, siapa mau dan bisa bekerja sama dengan orang yang sudah tidak bisa lagi berpikir kronologis dan logis? Orang seperti ini tidak bisa menjamin keselamatan dirinya maupun orang lain ketika berada di tempat umum atau harus berkoordinasi dengan orang lain. Seorang seniman musik jenius bernama Syd Barret dikenal sebagai orang yang ramah, supel, dan pintar membuat lagu. Ketika dia mulai terjebak pengaruh LSD dan akhirnya makin parah, dia didepak dari bandnya, band raksasa sangat terkenal bernama Pink Floyd. Teman-temannya mengatakan: “Syd masih hidup secara fisik, tapi sebenarnya dia sudah lama mati.” Inna lillahi.

Jadi sekarang terjawab pertanyaan di judul posting ini. Katakan tidak pada LSD dan narkoba dan segala macam zat adiktif lainnya yang membuat halusinasi parah. Bahwa ada orang-orang yang masih ingin melegalkan narkoba, yah, saya juga belum tahu penjelasan logisnya. Mungkin sama juga seperti orang-orang yang ngotot bahwa Bumi ini datar, mereka juga mengalami sesat pikir.

Leave a Reply