Tentang Jajak Pendapat dan Margin of Error

Suatu hari, sekumpulan mahasiswa menyajikan hasil jajak pendapatnya di kalangan mahasiswa kampus tentang peraturan berpakaian. Mereka mengatakan telah menyebarkan angket kepada 500 an mahasiswa, dan angket yang kembali sejumlah 316. Dari ke 316 angket tersebut, sekitar 60 persennya menyatakan bahwa peraturan berpakaian di kampus perlu ditinjau ulang. Dengan yakinnya mereka mengatakan bahwa itulah pendapat dari para mahasiswa.

Saya bertanya, jumlah total mahasiswa berapa? Jawabannya: “sekitar 1000 an orang”. Pertanyaan berikutnya: “apakah yang ke 316 itu sudah mewakili keseluruhan mahasiswa? Seandainya dianggap sudah, apakah hasil tadi itu disertai juga dengan margin of error?”

Jawabannya: “tidak disertai apa-apa”.

Wah, sayang sekali. “Lain kali, kalau mau bikin jajak pendapat, harus tahu dulu bagaimana mendapatkan sampel yang mewakili populasi. Lebih penting lagi, harus memperhitungkan margin of error sehingga kita bisa yakin tentang keakuratan hasil jajak pendapat tersebut.”

Pertanyaan berikutnya dari saya: “apakah adik-adik tahu apa itu margin of error?”

Jawabannya membuat lemas: “tidak tahu”.

Yah, semoga kekeliruan itu tidak berulang. Tersirat dari tulisan ini adalah harapan saya semoga para rekan guru yang mengajar statistik juga mengajarkan kepada para mahasiswa tentang margin of error. Ini hal sepele, mudah sekali dihitung, tapi ternyata diabaikan atau minimal tidak diperhatikan dengan serius. Akibatnya, penelitian jajak pendapat yang digarap oleh generasi muda harapan bangsa itu menjadi meragukan.

Margin of error adalah angka berbentuk prosentase yang menyatakan seberapa besar hasil yang didapat dari sampel menyimpang dari ciri populasinya. Maka, semakin kecil margin of errornya, semakin terpercaya hasil jajak pendapat itu. Jadi, kembali ke penelitian para mahasiswa tadi, kalau seandainya margin of errornya adalah 1% saja, maka kemungkinan salah (ciri di sampel yang 316 tadi tidak mewakili populasi) hanya sedikit. Artinya, dari 60% mahasiswa yang menyatakan peraturan itu harus ditinjau ulang, kemungkinan di populasi yang menyatakn begitu adalah 61% (60 + 1) atau 59% (60 – 1). Tapi, kalau margin of errornya besar, misalnya 10%, maka kemungkinan salahnya juga makin besar. Artinya, mungkin yg menganggap bahwa peraturan itu harus ditinjau adalah 70%, atau hanya 50%. Nah, yang paling celaka adalah tidak ada informasi sama sekali tentang margin of error. Pihak kampus yang disodori hasil itu lantas dengan mudah akan mengatakan: “kami ndak bisa percaya hasil jajak pendapat ini, lha wong ndak ketahuan margin of errornya kok.” Itu sebenarnya masih bisa dilemahkan lagi dengan pertanyaan: “sampelnya diambil secara acak atau tidak?”. Kalau jawabannya “ya, angket diberikan kepada mahasiswa yang kebetulan kami temui saja”, waduhh, tambah ndak bisa dipercaya lagi hasil jajak pendapatnya.

Saya sarankan, cermatlah dalam melakukan jajak pendapat. Kita bisa melihat laporan di Kompas tentang jajak pendapat yang mereka lakukan. Yang terakhir adalah hitung cepat Pilkada Gubernur DKI beberapa bulan yang lalu. Laporannya pasti memuat margin of error, dan cara pemilihan sampelnya pun sangat sistematis. Maka laporan seperti itu akan mudah dipercaya orang.

Ngomong-ngomong, gimana to caranya menghitung margin of error? Nah, untuk ini ya silakan tanya Mbah Google sana. Di Google informasi tentang itu banyaaaak sekali. Lha masak kalau membaca kaskus bisa cepat tapi mencari info tentang margin of error saja ndak tahu?

Sekian.

Leave a Reply