Pendidikan Terkutuk yang Gagal Mengasah Kreativitas

Label “pendidikan terkutuk” seperti yang saya tuliskan di judul posting ini rasanya tidak berlebihan. Mulai dari dekade 70 an sampai sekarang nampaknya dunia pendidikan terus dihujani kritik dan dinistakan karena dianggap menghasilkan manusia-manusia satu ukuran yang minim daya cipta dan kemampuan selaras jaman. Bahkan band tenar sekelas Pink Floyd pun menggubah satu komposisi enak luar biasa yang berjudul “Another Brick in The Wall”, dengan salah satu liriknya yang sangat nikmat, bangsat, namun ikonik sampai sekarang: “We dont need no education. Teachers, leave the kids alone!”

Akhir-akhir ini beredar viral sebuah video klip yang menghadirkan pendidik sebagai terdakwa, dan seorang pengacara muda yang dengan berapi-api mengutuk sistem pendidikan. Sistem pendidikan disebutnya tidak berubah mulai dari sejak ratusan tahun yang lalu. Murid diperlakukan sama, dituntut untuk mencapai kemampuan yang sama, dites dengan tes standar yang sama, tidak perduli mereka punya kemampuan, minat, bakat, dan kepribadian yang berbeda-beda. Pendidikan serupa itu hanya mematikan kreativitas dan daya pikir inovatif para siswa. Setelah lulus, mereka pun masuk menjadi salah satu sekrup produksi di dunia industri yang berpikir dan bertindak sesuai standar operasional. Maka tepatlah si Pink Floyd kurang ajar itu menjuluki mereka dengan “another brick in the wall”. Sebenarnya, sayapun juga sudah menulis tentang ini di posting ini.

Kecaman paling menohok dari video klip ini adalah bahwa pendidikan gagal melahirkan manusia-manusia yang kreatif dan inovatif. Apa iya? Setelah merenung sebentar, saya sampai pada kesimpulan bahwa tuduhan itu agak berlebihan. Dalam beberapa ilmu dasar seperti matematika, ilmu alam, bahkan bahasa, ada seperangkat teorema yang memang hanya mengijinkan satu jawaban. Jangan mimpi bisa berkreasi macam-macam disini. 2 + 2 = 4, 3 pangkat 2 adalah 9, dan kata benda dalam sebuah kalimat harus diikuti oleh verba sebagai predikat. Kalau 2 + 2 = “4 boleh, 10 ya bisa, tergantung imajinasi saya”, maka niscaya benda apapun yang kita rancang sudah jebol duluan karena perhitungan matematisnya seenaknya sendiri. Jadi, memang ada hal-hal tertentu yang kaku, sesuai kaidah, dan memang sudah begitu adanya karena seperti itulah alam semesta ini bekerja.

Sekalipun demikian, saya paham sekali keluhan bahwa dunia pendidikan cenderung memasung kreativitas. Karena relasi antara pelaku, yaitu guru/dosen dan mahasiswa, memang asimetris, maka proposisi yang berlaku di dunia pendidikan adalah “guru selalu lebih tahu, dan jawaban murid harus selaras pendapat guru.”. Disini kreativitas mandeg, bahkan mati, karena yang kemudian terjadi adalah upaya murid untuk menghafalkan jawaban yang sepersis mungkin dengan buku teks/jawaban gurunya. Otak kirinya yang berfungsi sebagai mesin fotokopi bekerja keras, sementara otak kanannya yang lebih memanjakan kreativitas dan imajinasi mati seketika.

Jadi bagaimana supaya pendidikan tidak mematikan kreativitas? Mungkin sudah saatnya dunia pendidikan memikirkan muatan pengembang imajinasi/kreativitas dalam kurikulumnya. Saya membayangkan ada mata kuliah atau kegiatan akademis dimana mahasiswanya dibiarkan bebas berimajinasi dan mengembangkan kreativitasnya di bidang-bidang yang disukainya. Saya membayangkan ada mata kuliah yang bebas skor dan bebas penghakiman. Murid dibiarkan menekuni minatnya–tidak perduli itu selaras dengan disiplin utama jurusannya atau tidak–kemudian mengembangkan kreativitasnya. Yang perlu dibekalkan adalah kemampuan berpikir kritis untuk memperhitungkan untung ruginya, tapi tak sesaatpun sang guru/dosen berhenti untuk memberikan skor atau menghakimi karya pikirnya. Di Fakultas saya, Bahasa dan seni, ada mata kuliah Creative Writing. Ini salah satu upaya kami disitu untuk menumnuhkembangkan kreativitas para mahasiswanya. Apakah nanti akan tumbuh juga mata kuliah Creative Accounting, Creative Chemistry,dan sebagainya? Ya, wallahualam, tapi setidaknya itu mencetuskan gagasan bahwa dunia akademik harus merombak diri supaya tidak menjadi pembunuh kreativitas insan muda.

Mungkin juga sudah saatnya dunia pendidikan berhenti memelihara pola pikir: “mahasiswa yang tidak niat kuliah akan suram masa depannya.” Saya curiga bahwa pola pikir itu dilandasi oleh keyakinan bahwa kesuksesan di dunia akademik adalah satu-satunya faktor penentu kesuksesan di masa depan. Padahal, dunia akademik hanya salah satu jalan saja menuju kesuksesan di masa depan. Seperti saya tulis di posting ini, banyak manusia yang meraih sukses dan kebahagaiaan melalui jalur hidup yang lain, yang tidak melulu akademik.

Jadi, apakah mungkin pendidikan lepas dari stigma “terkutuk” itu? Sang terdakwa yang adalah pendidik tadi berbisik takut-takut: “ya, tergantung maunya boss besar kami, pak.” “Hah? Ada boss besar? Siapa?”. “Ya, dunia industri, bro. Apa maunya dunia industri, ya kami-kami sang pendidik akan menurutinya. Mereka mau lulusan dengan kemampuan soft skills, ya kami ajarkan soft skills. Mereka mau lulusan dengan jiwa kewirausahaan, ya kami tambahkan mata kuliah kewirausahaan di kampus. Mereka sekarang mau lulusan yang pinter coding, ya sudah, kami bikinkan kuliah coding. Gitu aja, bro, pokoknya nuruti apa kata Tuan Industri itu.”

Maka saya pun terhenyak . . .

Leave a Reply