Selamat Jalan Pak Hallie Sahertian

Ketika membaca berita di grup WA pagi ini jam 5, yang terlintas di benak saya adalah : “kalau bukan sedang mimpi buruk, ini pasti lah prank yang keterlaluan.”

Berita di WA itu memang membuat terkejut sangat: “Pak Hallie Sahertian meninggal dunia tadi pagi jam 3.”

Sejenak saya masih berpikiran bahwa ini pastilah kerjaan orang iseng. Masa Pak Hallie, rekan saya yang sering berdiskusi dengan saya tentang pendidikan itu dan yang selalu mencerahkan suasana lewat guyonannya, dibilang meninggal dunia?

Tapi berita di bawahnya makin lama makin banyak. Semuanya mengucapkan keterkejutan dan duka cita yang sangat. Saya jadi gemeteran. Iya, sih, masa ada Machunger mau bikin prank seketerlaluan ini? Maka terhenyaklah saya teramat sangat. Pak Hallie meninggal dunia. Usianya baru 42 tahun.

* * *

Figur Pak Hallie saya kenal sejak kecil. Orangtuanya, Bapak dan Ibu Sahertian, adalah para dosen di IKIP Malang, dan kolega baik ayah dan ibu saya. Saya masih ingat ada acara sembahyangan di rumahnya di Jl. Simpang Bogor. Waktu itu saya melihat seorang anak lelaki usia 4 tahunan dengan rambut ikal dan mata berbinar-binar berlarian kesana kemari sambil tertawa dan bercanda membuat gemas tamu-tamu yang melihatnya. Sekilas saya dengar kakak-kakaknya memanggil: “Hallie! Hallie!”

Sekian puluh tahun kemudian kami bertemu kembali di Universitas Ma Chung. Saya sudah botak ndak karuan sementara dia sudah menjadi pria matang dengan tubuh tinggi besar. Tingkah lakunya yang menghibur dan lincah itu ternyata memang sudah menjadi jati dirinya. Pak Hallie selalu sukses membuat saya terbahak-bahak karena leluconnya yang spontan, agak nakal, dan tak disangka-sangka. Pada suatu pertemuan di ruang Theater, atmosfir ketika itu terasa serius dan berat karena topik pembicaraan adalah masalah finansial, dan saat itu menjelang Hari Raya Lebaran. Pak Hallie yang saat itu menjadi penyaji lalu menutup acara dengan mengucapkan beberapa kalimat singkat. Dia mengatakan dengan nada serius: “Bapak Ibu, setelah ini tentunya kita harus bersiap-siap menghadapi hal yang tak kalah pentingnya, yaitu THR.” Kontan saya ngakak di kursi saya! Guyonan itu terasa sangat pas dan sangat menohok, karena memang itu yang pasti dipikirkan oleh para karyawan tanpa seorang pun berani mengucapkannya. Seorang Hallie mewakili perasaan itu dengan guyonannya yang segar, bahkan dengan raut muka sangat serius.

Hallie seorang rekan diskusi yang baik dan senantiasa membuat saya berpikir ulang akan hal-hal apa yang saya yakini. Beberapa hari sebelum berpulangnya dia, dia masih sempat menanggapi dengan seru status saya di Facebook tentang pendidikan. Amat menyenangkan berdiskusi dengan pria muda yang tahu banyak hal dan selalu membuka cakrawala baru. Di bawah ini adalah cuplikan komentarnya di status Facebook saya tanggal 19 Maret yang lalu:

“Naah prof Patrisius Djiwandono…itu poin saya. Harus sadar dua duanya ya dan itu sulit sekali merubah “kebiasaan” itu. Namun ada beberapa perusahaan sdh menempatkan IPK itu di nomer buncit. Rekruter lebih melihat emosi, psikis, kemampuan komunikasi, berpikir logik, problem solver. Saya juga sering sampaikan di kelas bahwa percuma punya IPK tinggi tapi komunikasi tdk lancar, teamwork tdk sanggup, berpikir kritis logis problem solving lemah. Karena perusahaan ingin SDM seperti itu. Tidak sekedar IPK tinggi.”

Ini pria multi talenta dan seorang penikmat hidup 24 karat. Akun Instagramnya penuh dengan foto-foto pesiar bersama keluarganya, kebaktian di gerejanya, dan kebersamaannya dengan sang putri sulung, Thania, yang sangat gemar membaca buku. Foto yang saya suka dan selalu saya beri “like” adalah fotonya sedang merenung dengan buku di tangan dan segelas kopi di meja di depannya. “Merenungkan nasib negara ya, Pak?” goda saya lewat salah satu komen saya. Penikmat kopi, penyuka traveling, pembaca buku-buku bermutu, vokalis yang prima di band dosen dan karyawan Ma Chung, dan tentunya seorang teman yang hangat dan asyik, Hallie Sahertian akan selalu saya kenang sebagai satu dari sedikit sekali Ma Chungers yang berani menembus aura saya yang serius, membosankan dan datar. Dia hadir dengan tawa khasnya, guyonan-guyonannya yang tak henti membuat saya tertawa lepas, dan obrolannya yang bermutu yang senantiasa membuat saya berpikir.

Untuk seorang introvert seperti saya, kehadiran Hallie menjadi kembang api pencerah suasana di dunia saya yang selalu sepi, jauh dari hingar bingar basa-basi duniawi . . .

* * *

Mendadak saya sudah berdiri di depan peti jenazahnya. Hallie terbaring diam disitu. Aneh, tiba-tiba saja saya merasa beku dan kram otak, tidak bisa berpikir apa-apa. Lalu tenggorokan terasa menggumpal dan mata seolah mau meledak. Waduh, nek tak terusno pasti nangis aku ini. Rasanya seperti seorang anak kecil yang termangu-mangu karena teman mainnya tahu-tahu jatuh dan meninggal. Saya melipat tangan dan menunduk mengucap doa untuk seorang teman baik yang pergi terlalu cepat 🙁

“Death only applies to the physical body. The spirit lives on, eternally”. Itu yang saya tulis di wall Facebook saya.

Hallie Sahertian, kamu pria yang baik dan berbakat. Kamu senantiasa dekat dengan Tuhan lewat pengabdianmu di gereja, di dunia pendidikan, di keluargamu. Tuhan mencintaimu dan menyediakan jalan ke surga dengan lancar. Tuhan juga yang pasti akan memelihara putra-putri dan istrimu sehingga mereka bisa tetap tabah dan tegar, bertumbuh dewasa dan sejahtera.

Biyuh, sampai detik ini pun saya masih berharap semoga ini semua adalah prank yang keterlaluan. Saya berkali-kali menengok ke pintu kantor, seolah mengharap Hallie Sahertian muncul dalam kondisi segar bugar dan mengatakan: “Ta daaaa! Professor, you have been pranked! Hahaha!”

Selamat jalan, Pak Hallie. Beristirahatlah dalam damai kekal abadi . . .

Leave a Reply