Generasi Millennials Mencari Rumah

Karena manusia bukan siput yang bisa membawa rumahnya kemana-mana, maka setelah menginjak usia dewasa dan bisa mendapatkan nafkah sendiri, seorang muda dari generasi Millennial harus mulai mencari tempat tinggal. Malu kan kalau harus tinggal di rumah orang tua. Ini akan lebih mendesak untuk pria muda yang juga sudah siap menikah. Masa berani melamar seorang wanita kalau ternyata masih hidup serumah dengan orang tuanya?

Namun harga rumah sudah makin mahal. Uang muka yang harus disetor pun juga konon tidak semurah dulu. Isu ini makin menjadi-jadi di ibukota. Ternyata membeli rumah di kota metropolitan itu sungguh seperti a mission impossible untuk pasangan muda. Gaji mereka sebagai karyawan baru lulus atau sebagai staf junior ternyata masih belum cukup untuk membeli rumah. Rumah dengan harga yang terjangkau biasanya ada di kota-kota satelitnya (Depok, Tangerang dsb). Tentu saja konsekuensinya adalah jarak tempuh yang panjang untuk pulang pergi kerja, belum lagi macetnya. Ada juga rumah yang dekat ibu kota namun ternyata daerahnya sangat tidak strategis, jauh dari pusat transportasi, atau langganan daerah banjir.

Maka secara prosentase, kepemilikan rumah oleh generasi muda di Jakarta hanya 55,24%, jauh dibandingkan kepemilikan rumah secara nasional yang mencapai 82,63%.

Banyak generasi Millennial yang akhirnya hidup bersama orang tuanya walaupun usianya sudah kepala tiga. Mereka ikut membayar rekening Internet dan listrik, yang kalau dihitung-hitung masih jauh lebih murah daripada kalau menyicil rumah sendiri.

Menurut seorang peneliti pemukiman, ternyata semua ini bukan melulu kesalahan pihak penjual rumah yang memang terus menerus menaikkan harga rumah. Sebagian dari ketidakmampuan itu ternyata disebabkan oleh borosnya gaya hidup para Millennial. Yah, kita tahu sendirilah bagaimana generasi ini sangat doyan hang out di kafe, traveling kemana-mana, wisata kuliner, dan segala macam hobi nikmat yang sebenarnya tidak membawa nilai apa-apa kecuali bangga saja. Nilai finansialnya nol, karena mereka tidak menghasilkan uang namun malah membelanjakan uang. Berbeda dengan generasi kakek neneknya yang rajin menabung dan tidak malu hidup sederhana, generasi Millennial memang nampaknya tidak punya niat besar untuk menabung dan mengerem sedikit nafsu menikmati supaya bisa membeli rumah sendiri.

Gubernur Jakarta mencium persoalan ini dan merencanakan membangun apartment dengan harga terjangkau di atas stasiun MRT dengan ukuran 36 meter persegi. Beruntung punya gubernur seperti ini kan? Tapi lepas daripada itu, sebenarnya pesan dari kesulitan ini adalah sederhana saja: Jangan boros. Berhemat dan menabunglah untuk masa depan!

Leave a Reply