Kedewasaan dalam Bersosmed di Facebook

Hampir sepuluh tahun setelah Facebook diluncurkan, sudahkah kita menjadi Netizen wilayah kecamatan Facebook yang bertanggungjawab dan dewasa dalam berkehidupan di dunia maya?

Beberapa bulan setelah lahirnya Facebook, hampir semua penggunanya menunjukkan gejala spontan yang meledak begitu saja seolah-olah melampiaskan dendam kesumat setelah berabad-abad dipendam: foto-foto narsis, status emosional, status tidak jelas, doa-doa yang sarat dengan nafsu pamer kerohanian terbungkus untaian kepasrahan dan ketaatan terhadap Sang Tuhan, dan petuah-petuah sok bijaksana dari orang-orang yang mendadak menjadi “pintar, suci, dan bijaksana.”. Lahirlah sebuah dunia baru di alam maya. Beberapa orang menyebutnya “jurnalisme netizen”, “tembok ratapan”, dan bahkan saya sempat menjuluki Facebook sebagai “asylum” karena tidak berbeda dengan rumah sakit jiwa dimana para pasiennya ngomel ngalor ngidul tidak karuan ujung pangkalnya.

Saya akui saya juga sempat terkena gejala gila itu di Facebook. Lalu ada dua peristiwa yang membuat saya kembali waras, setidaknya tidak ikut terseret ke arus utama para Facebookers yang sekarang. Yang pertama adalah fakta mengherankan bahwa banyak dari mahasiswa saya ternyata sudah tidak lagi fesbukan. Saya tidak sempat menanyakan mengapa karena yang langsung timbul di benak saya adalah sesuatu yang sangat membangunkan: “anak-anak muda ini jauh lebih sadar betapa semu dan palsunya Facebook.” Mungkin mereka juga sadar bahwa akun mereka bisa diikuti oleh dosennya dan itu hal yang sangat tidak mereka sukai.

Peristiwa kedua adalah maraknya berita-berita palsu (hoax) di Facebook. Hebatnya, berita-berita ini bahkan bisa menyeret orang-orang pintar yang “terpelajar” untuk langsung mempercayainya dan–yang lebih membahayakan–menyebarkannya ke pihak lain tanpa ada cek ricek atau konfirmasi dulu tentang isi berita. Kalau dibiarkan, Indonesia akan terjerumus ke perang saudara dan sejarah akan menulisnya dengan tinta berdarah: “bangsa yang konon besar tapi tercabik-cabik oleh berita palsu dari para provokator yang cerdas nan licik.” Mampuslah kita.

Saya agak menyayangkan masih saja ada orang usia dewasa (20 tahun ke atas) yang memuncratkan emosinya ke Facebook setelah merasa kesal dengan pihak yang bahkan kita tidak tahu itu siapa. Memang dalam dunia psikologi gejala ini bisa dijelaskan. Kalau tidak salah namanya “displacement”, yaitu memindahkan beban emosi yang tertahan ke pihak lain yang tidak tahu apa-apa. Maka orang yang merasa kesal dengan teman atau kenalannya lantas memuncratkan emosinya ke Facebook, dan fesbuker lainnya yang melihatpun lantas bertanya-tanya: “lho iki ada apa kok tau-tau ngomel-ngomel sendiri??”. Memang bidang psikologi menganggapnya lumrah karena ada teorinya, namun buat saya hal itu sederhana saja: orang itu pasti gemblung, dan mempunyai masalah dalam mengendalikan emosinya. Lha masak yang beginian pantas disebut dewasa?

Tindakan kurang pantas lainnya adalah mengunggah foto jenazah atau orang sakit parah ke Facebook. Kalau tujuannya untuk mengundang simpati, bukankah sudah cukup pemberitahuan secara resmi di media massa atau sebagai pemberitahuan formal di status? Apakah dipikirnya nikmat batin ini melihat foto jenazah terbujur kaku di peti mati atau pasien dengan infus bersliweran disana-sini dengan muka kuyu di rumah sakit?

Untung lho orang mati itu sudah tidak lagi berurusan dengan dunia fana ini. Coba endak, ati-ati lho jangan sembarangan memotret jenazah dan mengunggahnya ke Facebook. Kalau dia tidak terima jangan-jangan dia langsung bangun dari petinya dan mencekik Anda, ngeeekkkk!! Ha ha haa! Mampuslah kau, lancang, hahaha!

Saya masih memelihara akun Facebook. Namun saya berusaha keras untuk menjadi Facebooker yang minimalis dan seperlunya saja. Status saya lebih banyak berupa kalimat-kalimat positif, misalnya ucapan selamat hari raya keagamaan, atau sharing artikel-artikel menyejukkan dan inspirasional, atau sekedar berbagi pengetahuan dari bidang saya.

Ada satu lagi kalimat dari pengelola Facebook yang sangat padat makna: “Facebook adalah akun publik.” Kata “publik” itu buat saya artinya adalah “belum ada aturan dan etiket yang sangat ketat dalam Facebook. Maka kalau ada yang aneh-aneh, ya sudah, maklumilah saja dulu.”

Leave a Reply