Belajar Bahasa secara Strategis

“Aduh, sulitnya bahasa Inggris ini. Ngafalin kata sepuluh biji aja dari tadi nggak hapal-hapal!”

“Mending kamu cuma suruh ngafalin. Aku nih, besok ada tes speaking. Topiknya my last holiday. Wuih, bingung musti gimana ngomongnya menceritakan pengalaman yang seru-seru liburan yang lalu. ”

Pernahkah Anda mendengar keluhan-keluhan semacam itu terungkap dari teman-teman, atau bahkan dari anda sendiri? Untuk sebagian besar orang, belajar bahasa Inggris memang tidak semudah belajar mengoperasikan ponsel seri terbaru. Sayangnya, setelah mengeluh panjang lebar demikian, banyak dari mereka yang kemudian patah semangat. Nggak bisa bahasa Inggris nggak patheken, begitu mungkin gerutu mereka. Memang, tanpa bisa berbahasa Inggris mereka tidak akan kudisan, namun yang pasti akan sulit dapat kerja di tengah era informasi ini.

Diperlukan ketekunan, kegigihan, dan sikap ulet untuk menguasai bahasa Inggris. Yang ini nampaknya sudah sering didengungkan. Tapi tahukah Anda bahwa ada satu lagi resep sukses belajar bahasa Inggris? Belajar dengan taktis. Atau dengan kata lain: belajar dengan menggunakan strategi yang jitu sehingga upaya belajar itu sendiri menjadi sesuatu yang menyenangkan, efisien, dan menjanjikan hasil yang memuaskan.

Secara umum, strategi belajar bahasa melibatkan tiga aspek: daya kognitif (kemampuan menyerap, menyimpan, dan mengambil kembali informasi dari pikiran), metakognitif (kemampuan memonitor proses pikiran), dan faktor sosial/afektif (kemampuan bekerja sama dengan orang lain dan mengendalikan emosi). Anda harus mampu mensinergikan ketiga aspek utama ini untuk membuat pengalaman belajar menjadi lebih mudah, atau minimal, tidak terasa sebagai suatu penderitaan. Nah, secara umum, here are your grand strategies:

Strategi 1: Sadari tantangan belajar yang harus dihadapi, dan buatlah rencana untuk menaklukkannya.

Ini inti dari setiap tindakan strategis: sadar akan tantangan yang harus dihadapi, dan menyusun rencana untuk menghadapinya. Dalam setiap kegiatan belajar apapun, Anda harus tahu karakteristik tujuan belajar yang ingin Anda capai. Menulis surat dalam bahasa Inggris? Berbicara dengan penutur asli Bahasa Inggris? Melakukan dialog di depan kelas dengan rekan? Wawancara dengan guru? Membaca teks dan menjawab pertanyaan bacaan? Semua ini merupakan tujuan-tujuan belajar yang harus Anda sadari. Langkah berikutnya adalah menyusun strategi untuk mencapai tujuan tersebut.

Misalnya, untuk dapat menulis surat dalam bahasa Inggris, Anda akan melihat model-model surat yang sudah jadi, mempelajari ungkapan-ungkapan yang dipakai, menulis draft, meminta guru untuk membetulkan kesalahan ungkapan dan tata bahasa, kemudian menyusun draft akhir surat tersebut.

Strategi 2: Lakukan beberapa jenis strategi yang berbeda.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang menggunakan bermacam-macam strategi akan memperoleh hasil yang lebih baik daripada mereka yang hanya mengandalkan satu jenis strategi saja. Sebagai contoh, untuk menambah penguasaan kosa kata, Anda dapat melakukan setidaknya tiga kegiatan: (1) menghafalkan daftar kosa kata (dengan strategi tertentu pula yang akan dijelaskan kemudian), (2) membaca novel yang Anda sukai, (3) menonton film sederhana dengan terjemahan. Kegiatan-kegiatan yang berbeda ini akan memperkaya kosa kata anda, bahkan kadang-kadang tanpa Anda sadari.

Strategi 3: Kombinasikan ketiga jenis strategi di atas: kognitif, metakognitif, dan sosial/afektif.

Kalau selama ini Anda hanya mempelajari pola-pola kalimat dari buku teks, cobalah mulai juga belajar bersama seorang teman. Kehadirannya bisa memacu Anda untuk belajar lebih giat karena Anda tentunya merasa malu kalau sampai kalah dengan dia. Begitu sudah terasa suntuk, Anda berdua bisa meluangkan waktu untuk tertawa sejenak, melonggarkan saraf dan pikiran, sebelum belajar lagi. Kalau salah satu mulai merasa kendor, sang teman bisa memberi dorongan untuk meneruskan belajar.

Ketika belajar bersama seperti itu, sesekali tanyakanlah kepada diri Anda sendiri: ”sudahkah aku mempelajari grammar ini dengan benar? Apakah cara yang kita pakai selama ini cukup berhasil? Kalau kurang berhasil, bagaimana kita bisa memperbaikinya sehingga menjadi lebih cepat dengan hasil lebih baik?”

Ketiga strategi di atas, yakni mempelajari tata bahasa, mengajak teman untuk belajar bersama, dan memonitor pikiran anda sendiri, adalah contoh sederhana kombinasi antara strategi kognitif, sosial/afektif, dan metakognitif.

That’s your grand strategy. Atau Anda punya kiat lain?

Leave a Reply