Ibu Kartini dan Make-Up Artist

Peringatan Hari Kartini tahun 2017 yang jatuh pada hari ini terasa sangat istimewa karena . . . biasa-biasa saja.

Jadi akhirnya bangsa ini sedikit lebih sadar bagaimana cara memperingati Hari Kartini. Puluhan tahun yang lalu pada setiap Hari Kartini jalanan akan disemarakkan dengan perempuan-perempuan berkebaya Jawa naik becak, atau dibonceng motor, pergi ke sekolah atau lembaga-lembaga pemerintah lainnya. Semua murid dan guru wanita (diharuskan) berkebaya dan bersanggul, persis seperti potret R.A Kartini. Baru beberapa tahun ini terasa betapa absurdnya cara itu. Wong memperingati seorang pejuang hak-hak wanita supaya wanita modern bisa mengangkat harkat dirinya setara dengan pria kok malah memakai kebaya? Gak nyambung, sistaaa . . . !

Saya mencuitkan sesuatu tentang Hari Kartini: “Perempuan modern jangan cuma mikiri jadi make-up artist atau gimana caranya supaya Instagrammable. Kartini itu mikir, bukan macak!”

Make-up artist belakangan sedang marak di dunia generasi muda (ya, sebenarnya di generasi tua juga sih, tua yang gak nyebut, mwahaha!). Sebagai bentuk kreativitas dan upaya menampilkan keindahan ya boleh lah, namun jangan kemudian terlarut-larut disini. Kartini dulu berjuang supaya kaumnya juga memperhatikan mutu isi hati dan pikiran di balik pulasan kosmetik yang serba gemerlap dan “menyulap” itu (mau dibilang ndak menyulap gimana wong penampilan seorang wanita bisa berubah drastis setelah disentuh oleh tangan make-up artist). Ada yang jauh lebih permanen, jauh lebih kontributif, jauh lebih inspiratif daripada pulasan bedak, gincu, mascara, eyeliner dan bulu mata badai tersebut. Kartini berjuang mengangkat derajad kaumnya supaya tidak hanya pintar macak, manak, dan masak. Inti perjuangannya pasti tidak sedangkal kulit yang terlapisi make-up atau tubuh berbalut kain kebaya Jawa. Maka saya kira kalau dia pun masih hidup sampai di jaman ini, bibirnya akan sedikit mencibir ketika kepadanya disodorkan fakta tentang make-up artist.

Wanita itu memang makhluk yang rumit. Mau menyejajarkan dirinya setara pria adalah cita-citanya, namun dari segi fisiologis saja sudah ada hal-hal yang membuat cita-cita itu sulit tercapai. Bagaimana mau bekerja optimal kalau selalu ada hari-hari yang diisi dengan PMS? Mau mengembangkan karir maksimal bagaimana wong ada tuntutan dan keinginan melahirkan dan merawat anak, yang bisa makan waktu setidaknya 5 tahun? Dalam angkatan kerja, mana ada suatu lembaga yang dengan legawa membolehkan karyawatinya absen sampai 5 tahun karena harus melahirkan dan membesarkan anak sampai usia awal sekolah?

Itu masih belum mempertimbangkan paham-paham religius yang konon tidak merestui kesetaraan antara pria dan wanita. Saya jadi bertanya-tanya, apakah Hari Kartini juga diperingati di Aceh yang notabene menjalankan hukum Sharia? Kelak kalau negara Indonesia sudah berdasarkan hukum Sharia, apakah masih ada Hari Kartini? Hati-hati lho, sebab jawabannya bisa sangat tegas: tidak.

Tapi saya juga tidak menampik fakta bahwa banyak wanita-wanita yang memang mampu menjungkirbalikkan suatu mitos. Mitos itu adalah tentang Superman. Ternyata, Superman itu tidak ada! Yang secara nyata jelas adanya adalah Super Women. Mereka adalah wanita-wanita yang mampu membentuk keluarga, melahirkan generasi penerus dan mendidiknya, menuntaskan semua pekerjaan rumah mulai mencuci sampai memasak, dan toh masih punya waktu dan tenaga untuk meraih gelar Master atau Doktor!

Selamat Hari Kartini 2017!

Leave a Reply