Mengapa Ahok Kalah

Seperti sudah saya kawatirkan pada posting sebelumnya berjudul “Ahok akan Kalah dalam Pilkada 2017”, Ahok akhirnya kalah dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Penyebabnya pun relatif jelas: pendukung paslon nomer 1 yang sudah gugur duluan pada putaran pertama beralih mendukung paslon nomer 3, sehingga suara untuk Ahok lebih rendah sampai sekitar 15 persen lebih daripada paslon nomer 3.

Namun selain itu, penyebab kekalahannya yang lain adalah betapa efektifnya taktik lawannya untuk membuat citranya jelek di mata publik Jakarta. Keefektifan ini didukung oleh kebodohan sebagian publik Jakarta yang tidak meperhitungkan rekam jejak dan prestasi nyata Ahok membangun Jakarta dan lebih mengutamakan sentimen agama. Pesaingnya dengan culas menggunakan taktik “timbulkan ketakutan” di kalangan para pemilih. Mereka ditakut-takuti akan ancaman siksa neraka jika memilih pemimpin yang bukan berasal dari golongan agamanya. Untuk pemilih yang memang secara mental dan akal kurang cerdas, ya taktik culas itu berhasil baik.

Tapi sebenarnya ada hal lain yang melatarbelakangi alasan para kaum kekuatan gelap ini dalam menjatuhkan Ahok. Sederhana saja alasannya dan sangat dangkal: uang, dan kekuasaan. Asal tahu saja, sepak terjang Ahok memberantas korupsi tanpa pandang bulu menggoyahkan kemapanan korupsi yang sudah berpuluh tahun dipelihara nyaman oleh para mafia dan pejabat bermental busuk. Mereka ini sebagian adalah para kaya (yang juga sama etnisnya dengan Ahok) dan para pejabat tinggi yang selama ini sudah menikmati kebiasaan menghisap darah rakyat lewat berbagai kebijakan yang koruptif. Maka mereka pun bersiasat untuk menjatuhkannya. Agama mereka pakai sebagai senjata belaka untuk makin menajamkan serangannya terhadap Ahok. Apakah mereka penganut agama yang taat? Jelas tidak. Nanti kalau isu agama sudah sukses menjatuhkan Ahok, percayalah, orang-orang ini akan melompat dengan berpijak pada kepala orang-orang beragama tadi naik ke tampuk kekuasaan. Maka mereka pun selamat dari pengadilan korupsi dan bisa meneruskan menghisap darah rakyat seperti selama ini terjadi. Orang-orang “agamis” yang tadinya mendongkel Ahok dengan isu agama, termasuk gubernur baru yang tolol dan bermental penjilat pantat itu, nanti pada saatnya juga akan disingkirkan begitu saja.

Maka benarlah ungkapan sangat menusuk di beberapa media sosial: 9 naga (para konglomerat gelap) bekerja sama dengan 9 setan (pejabat tinggi dan mereka yang haus kekuasaan) untuk mengkadali 9 juta penduduk Jakarta.

Agenda berikutnya adalah menjatuhkan atau setidaknya menggantikan Presiden pada pemilihan presiden tahun 2019. Untuk mencapai ini, berbagai taktik pun mereka lancarkan. Salah satunya adalah menghembus-hembuskan isu Komunis Gaya Baru. Presiden kita tercinta itu dikatakannya sedang mempromosikan agenda komunis lewat kebijakan-kebijakannya yang pro rakyat. Maka bisa diramalkan menjelang tahun 2019 akan mulai banyak serangan mengarah ke situ, lagi-lagi lewat isu agama. Akan mereka keluarkan semua propaganda anti presiden yang intinya adalah bahwa presiden itu ternyata komunis, dan bangsa beragama tentunya tidak menghendaki presiden yang ternyata komunis.

Sebagai rakyat Indonesia yang cinta kedamaian dan berupaya menghargai kemajemukan, kita tentu prihatin dengan skenario ini. Akhir kata, memang hanya kepada Tuhan lah kita meminta tolong semoga negara Indonesia ini tidak makin terpuruk atau tercabik-cabik oleh kekuatan gelap tersebut.

Leave a Reply