Pekerjaan-Pekerjaan yang akan Dirobotkan

Di masa depan, sebagian dari pekerjaan yang sekarang dilakukan oleh manusia akan berangsur-angsur digantikan oleh AI (Artificial Intelligence = kecerdasan buatan). Supaya tidak terlalu panjang menyebutnya, saya sebut saja “dirobotkan”.

Ada empat jenis tipe pekerjaan: manual repetitif, manual non-repetitif, kognitif repetitif, dan kognitif non-repetitif. Yang kognitif non-repetitif tidak selalu bisa diramalkan. Misalnya, pekerjaan seorang direktur perusahaan. Tantangan yang dihadapinya relatif tidak bisa diramalkan. Minggu depan barangkali ada tawaran merger, bulan depannya harga saham jatuh, bulan ini ada karyawan mengundurkan diri, dan sebagainya. Dalam mengadapi semua itu dibutuhkan kemampuan berpikir (kognitif) plus merasa (afektif). Dua hal ini membuatnya hampir mustahil bisa dirobotkan. Sementara itu, yang repetitif lebih bisa diramalkan. Misalnya, pekerjaan seorang kasir, atau seorang tenaga pengetik, atau pemeriksa karcis di bandara. Dari jam ke jam pekerjaannya ya itu-itu saja. Sangat mekanis, berulang-ulang, dan bisa diramalkan. Nah, yang terakhir inilah yang menjadi sasaran empuk untuk dirobotkan.

Pekerjaan apa yang tidak mungkin atau setidaknya sangat sulit dirobotkan?

Satu, guru.

Seorang guru menghadapi tantangan yang bukan hanya tidak bisa diramalkan, namun juga memerlukan empati, kesabaran, tenggang rasa, dan faktor-faktor emosional lain yang membuatnya sangat sulit digantikan oleh robot dengan kecerdasan buatan. Jadi, profesi guru relatif aman dari gejala perobotan.

Kedua, atlet profesional.

Kalau ada ide merobotkan seorang Lionel Messi, saya kira seluruh dunia akan kompak untuk menentangnya. Apa bagusnya melihat robot berlaga di lapangan atau ring tinju atau di sirkuit? Seorang atlit yang profesional tidak akan dirobotkan karena ketrampilannya yang sangat manusiawi lah yang membuatnya memikat untuk dilihat.

Ketiga, politikus.

Politik memerlukan bukan hanya daya nalar tapi juga kemampuan bernegosiasi, kemampuan membujuk, kemampuan membawakan diri, menciptakan citra diri, termasuk juga kemampuan bermuka dua dan berpura-pura. Hal ini membuatnya sangat sulit untuk direduksi jadi setumpuk algoritma penyusun sebuah robot.

Keempat, hakim.

Sama seperti politikus, seorang hakim mengerahkan daya akal budi dan emosinya untuk bisa melakukan pekerjaannya. Karena faktor emosi yang dominan ini, maka profesi hakim kemungkinan besar juga tidak akan dirobotkan.

Kelima, ahli kesehatan mental.

Ini meliputi psikolog, psikiater, dan tenaga ahli kesehatan jiwa. Karena pekerjaan mereka memerlukan kecerdasan kognitif dan kecerdasan interpersonal, sangat sulit sebuah robot bisa menggantikannya.

Lalu, apa saja pekerjaan-pekerjaan yang kemungkinan akan dirobotkan? Berikut adalah uraian yang saya sarikan dari beberap sumber yang saya baca, utamanya di Linkedin:

Satu, penerjemah.

Ini sebenarnya sudah bisa dirasakan getaran gempanya sejak Google Translate diciptakan. Mesin haram jadah itu makin luar biasa pintarnya menerjemahkan setelah kepadanya diajarkan jurus NLP (Natural Language Processing). Sekarang, GT menerjemahkan bukan hanya kata, tapi kalimat. Nanti setelah kalimat dengan cepat dia akan mampu menerjemahkan wacana, tentu saja setelah dibekali dengan pengetahuan pragmatik atau konteks. Alat Google Lens mampu melihat serangkaian tanda verbal (misalnya pengumuman di statsiun kereta) lalu menerjemahkannya dalam hitungan detik di layarnya. Maka dalam 10 – 15 tahun ke depan kalau profesi penerjemah sudah dilibas oleh robot ya harap maklum.

Dua, akuntan.

Ini sebenarnya agak mengejutkan. Masa iya profesi begitu rumit bisa dirobotkan? Tapi menurut para futuristik, karena sebagian pekerjaan dari profesi ini memang jatuh pada kategori manual repetitif tadi, maka dengan cepat kecerdasan buatan akan mampu menggantikannya. Ini mengherankan, tapi yang jelas mengerikan.

Sementara itu, ada dua figur ternama yang urun rembug soal kecerdasan buatan ini. Yang satu adalah Jack Ma, trilyunwan (kalau dulu namanya “jutawan”, tapi sejak rakyat jelata punya tabungan berjumlah jutaan, sekarang istilahnya menjadi “trilyunwan”) pemilik Alibaba, dan yang kedua adalah Elon Musk, pendiri bermacam-macam perusahaan futuristik. Jack Ma mengatakan bahwa robot dan manusia bisa bekerja sama membangun sebuah peradaban yang lebih maju. Manusia tidak perlu takut akan diperbudak oleh robot. Elon Musk agak parno (paranoid). Dia gigih menyumbang dana untuk mendirikan sebuah lembaga yang akan menghalangi robot memperbudak manusia. Dia percaya bahwa kecerdasan buatan yang tidak terkendali pasti lambat laun akan mereduksi manusia dan kemanusiaan itu sendiri.

Anda lebih percaya yang mana? Sekarang gini aja: ayo kita cek rekening tabungan kita. Eh, mau ngeliat harus kita masukkan passwordnya. Lupa password? Kelar hidup lo! Kirim email minta tolong! Minta tolong ke siapa? Ya ke servernya komputer bank atau email kita. Habis dapat password baru, mau masuk lagi, eh dicegat captcha. Salah memasukkan captcha? Ulangi sampai benar! Nah, Anda masih belum percaya bahwa hanya untuk mengecek uang kita di bank pun kita sudah harus patuh sama robot??

Ngomong-ngomong, kenapa sih saya berisik sekali soal Artificial Intelligence ini? Ya karena era perobotan sudah makin mendekat. Tanpa sadar kita sedang memasukinya dan kita tenang-tenang saja. Lihat saja di banyak bandara sekarang beberapa pekerjaan manual repetitif seperti check-in dan pelabelan bagasi sudah digantikan oleh mesin. Kata nya para pakar sih, dalam 20 tahun ke depan gejala perobotan ini akan semakin masif dan kita pun lantas kelimpungan kehilangan pekerjaan dan sebagian dari sisi manusiawi kita.

Leave a Reply