Keluhan Mahasiswa PA

Hari ini saya mengumpulkan mahasiswa PA saya setelah usai ujian di kelas General Linguistics yang saya asuh. Ada 4 orang mahasiswi. Mereka saya minta menceritakan keluhan-keluhannya tentang hal-hal akademis yang mereka alami selama ini. O, ya, PA adalah singkatan Penasehat Akademik. Maka mahasiswa yang menjadi asuhan saya di bawah sistem ini saya sebut saja “mahasiswa PA” sekalipun secara makna jadi agak menyimpang.

Ada 2 mata kuliah yang mereka keluhkan. Tentu saja semuanya diasuh oleh kolega-kolega saya yang nota bene kadang jadi teman nongkrong di warung kopi. Mata kuliah yang satu namanya “EhemEhem Writing” (EW). Mahasiswa mengeluh karena isinya hanya presentasi dari teman-temannya, setelah itu sesi konsultasi pribadi dengan sang dosen. Mereka merasa tidak mendapat ilmu karena tidak diberikan penjelasan secara langkah demi langkah dan model tulisan yang baik. Tentu saja mereka tidak mempercayai presentasi teman-temannya karena kan masih sama ndlahomnya. Mereka mengharapkan bimbingan dari dosennya untuk model menulis yang baik dan langkah-langkahnya. Nah, terbukti kan bahwa dalam tahap awal selalu diperlukan “teacher-centered sessions”? Jangan keblinger dengan istilah “student-centered” karena faktanya pada beberapa tahap murid masih mengharapkan sumber utama dari gurunya.

Sesi konsultasi pribadi di kantor sang dosen ternyata juga tidak membuat mereka nyaman karena sang dosen ternyata sangat menghakimi. Ungkapan yang tidak gramatikal langsung disikat dengan ” grammarmu salah kabeh. Dosen grammarmu siapa tho?” Waduh, ya pantes mahasiswa jadi mengeluh. Memang jadi guru itu tidak gampang. Seperti yang saya tulis di wall Facebook: “mengkritik murid tanpa membuatnya patah semangat adalah seni yang rumit.” Seharusnya dosen itu bersikap lebih manusiawi, penuh empati, dan bijak atau cerdik dalam mengungkapkan komentarnya.

Mata kuliah satunya adalah mata kuliah “Canggih Bro”. Mahasiswa mengeluh karena beberapa kali gagal menyerahkan hasil pekerjaannya. Rupanya piranti yang digunakan kurang baik sehingga gagal berkali-kali. Sang dosen pun terkesan tidak mau tahu dengan kesulitan itu (mungkin juga karena beliau tidak tahu gimana caranya membenahi alat itu) dan memberi nilai 0 pada mereka yang gagal menyerahkannya.

Yah, dosen berhak membuat inovasi dalam pembelajarannya. Sejauh itu tetap memperkaya wawasan mahasiswa dan menajamkan kemampuan berpikirnya, itu boleh-boleh saja dan bahkan dianjurkan. Namun dia harus selalu ingat akan kelemahan dan kekuatan inovasi tersebut. Itulah makanya diperlukan sesi evaluasi dari sudut pandang mahasiswa atau bahkan dari kantor penjaminan mutu.

Kendati sudah menulis begini, saya juga sadar bahwa pasti ada juga sisi lemah saya yang tidak membuat mahasiswa nyaman. Celakanya, hal seperti itu jarang sekali terungkap. Maka setelah sesi konsultasi mahasiswa PA itu saya langsung mengemail para kolega saya untuk berpesan jangan sungkan-sungkan melapor kepada saya komentar-komentar dari para mahasiswanya tentang cara saya mengajar. Kalau ada sesuatu yang ternyata saya lakukan dengan buruk, kan sudah seharusnya saya tahu sehingga bisa menghilangkannya dan menggantikannya dengan yang lebih baik.

Apakah setiap dosen PA punya waktu untuk berinteraksi dengan bimbingan PA nya? Saya juga kurang tahu. Hanya bisa mengharapkan semoga mereka juga demikian. Jadi dosen PA itu dibayar lho. Sekalipun jumlah imbalannya sangat kecil, namun aspek kemanusiaan, kepekaan, dan kesabaran itu yang jauh lebih penting.

Di akhir sesi, saya katakan bahwa saya akan membawa keluhan-keluhan mereka tadi ke forum dosen. Tentunya dengan cara yang sangat bijaksana sebab kritikan terhadap dosen ini adalah perkara yang sangat sensitif. Kalau saya tidak menanganinya dengan baik, jangan-jangan kedua kolega tadi tidak mau lagi diajak ngopi dan ngerokok bareng di warung rakyat. Atau yang lebih gawat lagi mereka akan mengajak saya: “ayo, minum kopi Vietnam bersama saya. Saya yang traktir”. Waduh, guawat!!

Lantas saya juga mengatakan kepada mahasiswi-mahasiswi PA saya: “anggaplah setiap tantangan ini sebagai suatu pisau yang makin menajamkan mental dan ketangguhanmu”. Yang paling pinter dari antara mereka manggut-manggut. Nah, kalau yang terpintar sudah manggut-manggut ini pasti sudah meresap pesan-pesan saya itu ke hati dan pikiran mereka semua.

2 Comments

    • Ya, Yusi. Semoga beliau tidak membaca blog ini, atau kalaupun membaca ya semoga saya tidak dimusuhi oleh beliaunya khi khi khi 🙂

Leave a Reply