Suka yang Gelap-Gelap

Perbincangan dengan rekan Amerika yang bernama Ron Keeler selalu menyenangkan. Kami sama-sama menyukai membaca cerita. Dia lebih punya waktu untuk membaca dan mereview cerita daripada saya sehingga obrolannya pun lebih banyak.

Secara teratur, dia mempostingkan reviewnya di laman Facebooknya, dan selalu saya baca dan kadang-kadang saya beri “like”. Pada reviewnya dua minggu lalu, dia mereview sebuah cerpen karya penulis muda Amerika. Judulnya “The Lamp”. Waduh, cerita itu sangat mengesankan, asik dibaca, panjangnya pas dan cara berceritanya juga polos-polos lugu tapi menyentak-nyentak membuat nikmat. Ya, mirip-mirip mau orgasme gitulah, hihihi.

Ron bilang bahwa ada juga cerita-cerita yang bukan favoritnya, yaitu cerita-cerita yang “more humanistic”. Apa itu? “Itu tuh, cerita-cerita yang intinya adalah bahwa manusia harus berdamai, hidup saling mencintai, bergandengan tangan dalam harmoni dan yang kek gitu kek gitu lah.” Kontan saya ketawa keras-keras. Rasanya lega dan juga puas karena ternyata saya tidak sendirian.

“Ooo, jadi gitu ya? Jadi kamu suka cerita-cerita yang gelap-gelap gitu ya? Yang dark gitu yaa?” tanya saya di tengah rasa haru dan puas itu (saya terharu karena saya tidak sendirian. Ternyata ada juga manusia dewasa tuwek yang suka menikmati cerita-cerita agak gelap).

“Yeah, I dont like humanistic stories. Good stories need to be more darker,” demikian jawabnya.

Kenapa saya jadi cemas terhadap selera saya yang suka cerita-cerita dan film agak gelap? Ya karena buat saya itulah hiburan yang sesungguhnya, tapi di lain pihak saya juga harus mengenakan “topeng sosial” yang harus patuh terhadap norma-norma baik dan humanistic tadi. Cerita yang mengasyikkan adalah yang mengusik rasa gelisah, rasa dendam terhadap hidup yang keras, rasa kangen terpendam akan sesuatu, atau rasa ingin melampiaskan kebuasan di tengah ketidakberdayaan. Mungkin dalam dunia psikologi namanya “katarsis”, semacam katup pelampiasan dari rasa-rasa yang liar, meratap, atau penuh kecemasan itu. Membaca dan melihat film dan cerita-cerita gelap membuat katarsis itu bekerja dengan sempurna dan itu melegakan.

Ternyata setelah melampiaskan hobi menulis di laman storial.co pun cerita-cerita saya tergolong “gelap”. Satu cerpen terbaru yang saya tulis disitu adalah disini. Saya tidak tahu apakah itu cerpen gelap atau humanis, tapi yang jelas mungkin agak sedikit bernada satir dan nyinyir. Idenya muncul mak jegagik di pikiran saya ketika sedang jalan-jalan pagi kemarin.

Saya tahu beberapa mahasiswa saya membaca cerpen-cerpen itu. Reaksi mereka? Ya biasa-biasa aja tuh. Mungkin mereka sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan karya kreatif seorang dekan dan notabene bapak asuh mereka di kampus. Mungkin juga mereka pusing tapi saya tidak tahu karena semuanya di balik punggung saya.

Masih tentang gelap, ada lagi istilah baru di dunia perfilman, yaitu “gory”. Ndak banyak lho kaum tuwek yang tahu kata ini, tapi semua mahasiswa saya tahu artinya. Kata ini bermakna “berdarah-darah”. Pernah lihat film “Saw” atau “Hostel”, atau “Texas Chain Massacre”? Nah, itu dua contoh film gory. Penuh adegan orang disayat-sayat hidup-hidup, dibor, dipalu sampai darahnya muncrat-muncrat. Yah, namanya juga film gelap, bisa sangat menjijikkan seperti itu. Tapi sebagaimana kebanyakan orang lain, saya mah tidak suka film gory. Cukuplah yang gelap secara psikologis dan bisa memicu katarsis itu saja.

Leave a Reply