Teori Complexity

Teori Complexity tidak rumit. Sederhana saja.

Ada 4 elemen utama dalam sebuah sistem yang dikatakan kompleks:

Satu, keberagaman. Bayangkan sebuah lembaga. Di dalamnya ada beragam orang dengan sifat dan bakatnya sendiri-sendiri.

Dua, keterhubungan. Kembali pada contoh lembaga tadi, kita bisa melihat betapa semua orang di dalamnya saling terhubung satu sama lain entah secara hirarkis (atasan – bawahan) atau setara (guru dengan guru; manajer dengan manajer lainnya).

Tiga, keterkaitan. Apapun yang dilakukan setiap individu pada lembaga tersebut akan mempengaruhi individu yang lainnya. Kalau supervisor mengundang rapat, stafnya akan datang menghadirinya. Kalau direktur memutuskan sesuatu, anak buahnya akan menjalankan keputusan itu. Kalau staf produksi tahu-tahu mogok kerja, bagian personalia akan menghubungi penyelianya dan merapatkan kasus itu dengan pihak manajemen, dan sebagainya.

Empat, adaptasi, atau reaksi. Setiap tindakan dari seorang individu di lembaga itu akan ditanggapi oleh pihak atau bagian yang lainnya. Tanggapannya bisa berupa adaptasi (“baiklah, kami akan lebih tepat waktu dalam memulai kerja”), atau reaksi (“karena Anda mengeluarkan ancaman, kami merasa tersinggung dan besok kami akan mogok bekerja.”).

Sistem kompleks di atas berbeda dengan sebuah kondisi yang rumit atau complicated. Jadi, kompleks tidak sama dengan rumit.

Dalam sebuah kondisi yang rumit, ada beberapa bagian dalam satu wadah, namun tidak ada keterkaitan, koneksi, maupun reaksi/adaptasi dari masing-masing bagian. Bayangkanlah sebuah mobil yang diam di showroom atau garasi. Benda itu rumit, namun tidak kompleks karena semua bagian-bagiannya tidak berfungsi dengan ciri seperti yang telah digambarkan di atas.

Lalu bagaimana membuatnya menjadi kompleks? Sederhana. Bukalah pintunya, duduk di kursi pengendara, nyalakan mesinnya, dan kendarailah mobil tersebut. Sekarang, benda yang tadinya hanya rumit itu menjadi sebuah sistem yang kompleks. Ada hubungan, ada saling keterkaitan, dan reaksi/adaptasi dari semuanya. Kalau Anda pijak gas, bensin menyembur deras di ruang pembakaran, roda melaju cepat, dan mobil melesat. Begitu Anda injak rem, putaran mesin menjadi lebih pelan, roda bergesek dengan aspal untuk memperlambat laju mobil. Kompleks.

Sistem kompleks itu menjadi makin besar ketika Anda melaju di jalan raya yang ramai. Sekarang ada banyak pengendara dengan kompleksitas mobilnya masing-masing, dan antara satu pengendara dengan pengendara lainnya. Dari kekompleksan ini, timbul suatu pola yang disebut “emergent”: entah bagaimana caranya, di jalan raya yang padat itu semua orang bisa melaju relatif cepat tanpa harus sering bersenggolan disana-sini.

Teori Kompleksitas (Complexity Theory) menjadi fondasi bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial, termasuk di dalamnya kepemimpinan, manajemen, dan pembelajaran bahasa.

Untuk sementara sekian dulu ringkasan hasil belajar saya sore ini.

Leave a Reply