Mengapa Kreativitas Mandeg Di Universitas

Saya merasa sedikit kasihan dengan yang namanya perguruan tinggi. Akhir-akhir ini nasibnya makin memelas karena dihujani berbagai kritik. Mulai dari sindiran sekelas meme sampai pembicara setenar Sir Ken Robinson di TED Talk mengecam habis pendidikan di perguruan tinggi. Yang dibilang pendidikan tinggi memasung kreativitas lah, yang dari sejak jaman dulu tidak berubah lah, yang tidak relevan dengan dunia kerja lah, yang hanya menelurkan barisan penganggur lah, waduh banyak sekali kecaman yang dilontarkan.

Saya tergerak untuk menyoroti satu hal dulu saja, yaitu perihal pemasungan kreativitas. Apakah benar pendidikan di universitas membuat kreativitas dan imajinasi mahasiswa menjadi mandeg, tidak berkembang, dan akhirnya mati?

Rasanya kritikan itu belum perlu atau bahkan tidak perlu dilontarkan kalau kita memahami hakekat perguruan tinggi. Sebagai wadah kaum intelektual, universitas sejatinya adalah tempat penyebaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Lebih khusus lagi, sebagian besar bahan kajian di universitas adalah hipotesis yang kemudian berkembang menjadi teori. Untuk memahami seperangkat teori pertama-tama bukan kemampuan kreatif yang diperlukan, tapi kemampuan berpikir abstrak dan kemampuan memahami. Kalau kemudian ada yang mengharapkan ruang untuk berkreasi disini, ya tidak pas. Bagaimana Anda bisa kreatif ketika mempelajari ilmu gravitasi, teori ekonomi makro, teori linguistik generatif Chomsky, atau teori manajemen modern? Ibaratnya menjumlahkan 1 + 1 dalam matematika, tidak mungkin Anda berpikir kreatif lalu mencoba menemukan jawaban semau Anda sendiri. Jawabannya ya harus 2, tidak bisa tidak. Ketika belajar di perguruan tinggi, sebagai orang yang belajar, tugas Anda adalah membaca, memahami, dan menerima teori itu apa adanya. Jangan dulu bermimpi bisa kreatif disini.

Kecaman lain yang sering digaungkan adalah bahwa ilmu di kampus tidak bisa diterapkan di dunia kerja. Lho, lha ya mesti saja. Sebagai suatu bangunan teoretis, bidang kajian itu memang tidak serta merta lalu bisa diterapkan mak jebreet ke dunia pekerjaan. Kampus, terutama yang berujung pada gelar Sarjana, memang bukan tempat kursus masak yang langsung bisa membuat muridnya menerapkan cara menggoreng telur atau merebus daging. Tapi soal tidak terpenuhinya harapan ini adalah isu yang lain lagi. Untuk sementara kita berasyik masyuk dulu di bidang kreativitas tadi.

Sebenarnya, perguruan tinggi juga bisa menanggapi komentar pedas tentang pemasungan kreativitas itu. Namun memang harus diakui sebaran ilmu di banyak kurikulum jurusan tidak atau hanya sedikit sekali memberikan porsi kreativitas untuk berkembang. Sejauh yang saya amati, belum ada mata kuliah “Thinking and Imagining Things”, atau “Going Creative Like Crazy” di perguruan tinggi manapun. Kebanyakan adalah teori-teori besar nan agung yang ya itu tadi, masih sangat abstrak dan hanya mengasah pemahaman analitis, bukan kreatif.

Lalu terdengar banyak orang tua dan kaum pengkritik mengeluh : “gimana ini? Setelah anak-anak saya kuliah di kampus, kreativitasnya makin tumpul!”.

Dalam hati sebenarnya saya ingin menjawab: “ya, kalau begitu selepas SMA ya jangan masuk perguruan tinggi. Ambil saja kursus singkat yang sesuai bakat dan minat, atau bergabung dengan kelompok-kelompok seni, musik, asosiasi bisnis X atau Y, pokoknya apa pun lah selain perguruan tinggi. Disitu kreativitas akan lebih berkembang.”

“Wah, tapi kalau anak saya ndak saya kuliahkan, lantas apa kata orang nanti? Nanti kalau kirim undangan nikah, cilaka kalau dibelakang namanya ndak ada “S.E” nya atau “M.Hum” nya. Jangan-jangan saya direndahkan karena generasi penerus saya ndak makan bangku kuliah.”

Kalimat terakhir itu adalah “penyakit sosial” yang kemudian kita sadari adalah pangkal dari segala keriuhan kecaman dan kritikan terhadap perguruan tinggi yang mereka anggap telah memasung kreativitas insan muda.

Leave a Reply