Kucingku Hidup atau Mati?

Saya punya seekor kucing. Kucing itu saya masukkan ke dalam sebuah kotak beserta sebotol racun yang masih tertutup rapat, sebuah zat radioaktif, serta pengukur radiasi. Lalu kotak itu saya tutup rapat.

Kalau zat radioaktif itu meluruh (terurai) maka alat pengukur radiasi itu akan bekerja, lalu membuka segel botol berisi gas racun itu. Racun menguap keluar, dan matilah kucing saya itu.

Ya, tapi itu kan kalau zat radioaktif itu meluruh? Lha kalau tidak meluruh, bagaimana? Sederhana. Kucing saya itu akan tetap hidup.

Sekarang pertanyaannya adalah: apakah kucing itu mati atau hidup, hayoo??

Jawabannya mulai membuat kepala puyeng: selama kita belum membuka kotak itu, kucing itu bisa hidup, bisa mati, atau berada dalam kondisi kedua-duanya. Ya hidup, tapi ya mati. Lho, piye to iki?? Mana ada kucing bisa hidup dan mati sekaligus??

Para ahli fisika menamakan kondisi itu: superposition. Pada saat ini, bahwa si kucing itu hidup atau mati adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi, atau kondisi-kondisi yang POTENSIAL bisa terjadi.

Tapi kembali kepada pertanyaan tadi: hayoo, kucingnya hidup atau mati??

Barulah ketika kita membuka kotak itu, ta daaaa, . . . kita akan tahu apakah si kucing mati, atau hidup. Pada saat kita membuka dan mengamatinya, ada kesadaran kita yang mengamati si kucing. Kesadaran itu lah yang membawa pada satu kondisi tertentu: hidup, atau mati.

Jadi, apa pun yang akan terjadi dengan segala sesuatu di alam semesta ini hanya lah berupa kemungkinan-kemungkinan potensial saja, berupa superposition saja, sampai pada detik kesadaran manusia mengamatinya.

Jadi, bagaimana nasib negeri kita Indonesia ini pada tahun 2019 ketika pemilihan presiden dilangsungkan? Akankah Pak Jokowi memenangkannya? Kalau dia menang, tentu ada pihak yang tidak terima. Apakah perang saudara antara gerombolan radikal dan kaum nasionalis pecah? Lalu, akankah negara kita tercabik-cabik penuh gelimangan darah seperti di Yugoslavia, Uni Soviet, dan Suriah sekarang?

Jawabannya sama seperti nasib kucing saya tadi: bisa iya, bisa tidak. Bisa damai, bisa perang gila-gilaan. Bisa sejahtera, bisa hancur lebur berdarah-darah. Semua itu adalah superposition, masih kemungkinan potensial, belum ada yang pasti . . . .

. . . Sampai kita semua berada disana dan mengamatinya dengan kesadaran kita. Sekali lagi, ketika kesadaran kita mengamati 2019, pada saat itu lah jawabannya mengerucut pada satu kondisi saja.

*) Tulisan ini disarikan dari pelajaran yang saya tekuni hari ini tentang Quantum Mechanics. Kucing saya di atas tadi populer dengan nama Schrodinger’s Cat, karena memang yang mencetuskan ide itu adalah seorang pakar mekanika kuantum bernama Schrodinger. Kesadaran yang saya sebut-sebut tadi akan lebih menggetarkan dalam bahasa aslinya: The COLLECTIVE CONSCIOUSNESS, atau the UNIVERSAL CONSCIOUSNESS.

Leave a Reply