Pancasila adalah Ideologi Radikal

Di sebuah harian baru-baru ini, seorang dosen ITS (tepatnya, seorang guru besar) menulis opininya tentang pelarangan kegiatan berideologi radikal di kampus-kampus. Lalu dia mengemukakan argumennya bahwa Pancasila juga termasuk ideologi radikal. Apapun yang bergelora adalah radikal, tulisnya.

Saya tidak paham tentang ilmu ideologi dan segala macam kerumitannya. Saya juga bukan pakar Pancasila. Namun di balik pikiran saya yang lugu ini mencuat satu pertanyaan: “kalau Pancasaila adalah ideologi radikal, mengapa sejak dikumandangkannya sampai sekarang ideologi itu bisa mengayomi manusia-manusia Indonesia yang nota bene sangat beragam dalam kesukuan, kepercayaan, agama, etnis, dan ras itu? Mengapa minim sekali konflik berdarah di bawah Pancasila? Ya, kalaupun ada pasti karena ada pihak-pihak yang mencoba menggugat Pancasila lalu kemudian ditanggapi dengan keras oleh pemerintah, bukan?”

Okelah kalau mau dikatakan bahwa Pancasila adalah ideologi radikal. Tapi fakta bahwa Pancasila itu sanggup menaungi sekian banyak manusia yang berbeda-beda secara relatif damai, bukankah itu suatu hal yang sebenarnya patut disyukuri? Kalau mau diganti dengan ideologi lain, lha pertanyaannya adalah: “apakah ideologi baru itu mampu mengayomi segenap warga Indonesia dengan damai tanpa harus ada pemaksaaan berkeyakinan dan beragama (termasuk juga tidak beragama), dan tanpa menghujat orang lain sebagai kafir?”

Kalau jawabannya adalah bahwa ideologi itu perlu untuk mengembalikan dasar keimanan satu agama tertentu, lho, ya jangan disini berkiprahnya. Silakan ke negeri lain sana atau ke dasar laut yang semua penghuninya belum beragama. Iya kan?

Satu lagi kritikan yang dilontarkan dosen itu adalah tentang pendidikan di sekolah (disebutnya sekolahisme) yang mengecilkan peran keluarga dan lingkungan sebagai pusat pendidikan, dan melakukan pemaksaan ilmu. Lho, bahwa dia bisa menjadi guru besar bukannya dulu juga karena “tunduk” pada sekolahisme itu ya? Bahwa dia dengan bangga memamerkan foto profilnya di artikel itu dengan memakai toga, bukankah itu simbol kepatuhan terhadap sekolahisme juga?

Menghujat dan mengkritik suatu ideologi dan sistem memang mudah. Cuma, jangan sampai ternyata argumen-argumennya menusuk dirinya sendiri. Ya persis seperti banyak orang yang mengharamkan produk kafir tapi menggunakan Facebook, Twitter, dan Internet untuk menyebarluaskan kebenciannya itu. Bukankah itu semua produk kafir? Banyak apps dan kecanggihan gawai modern diciptakan oleh orang-orang yang sekuler, agnostik, bahkan atheis. Lha kalau ndak suka mereka kok memakai produknya?

Sebaiknya memang berpikir panjang sebelum mengemukakan suatu argumen yang provokatif.

Leave a Reply