Stroke. Stroke! Stroke?

Stroke.

Kata itu mungkin adalah kata bahasa Inggris canggih yang paling gampang diingat oleh orang-orang Indonesia yang tidak bisa berbahasa Inggris sekalipun. Kalau suatu kata diingat sampe segitunya, itu menandakan bahwa kata itu penting dan berkesan. Ya, mau ndak penting dan ndak berkesan gimana wong artinya mengerikan: “tersumbatnya pembuluh darah di otak oleh plak atau kandungan lemak sehingga otak kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi”.

Jaman saya kecil dulu, tahun 1980 an, penyakit stroke umumnya menimpa orang-orang lanjut usia yang sudah 70 an tahun keatas. Namun di jaman ini, kabarnya pasien stroke makin muda. Beberapa orang yang baru memasuki usia 40 an sudah kena stroke. Bahkan ada yang baru 30 an sudah kena stroke. Perubahan gaya hidup dan pola makan sangat dicurigai menjadi penyebabnya. Ya masuk akal. Kalau dulu orang-orang bersepeda kemana-mana atau berjalan kaki, sekarang tinggal duduk diam diantar mobil kemana-mana. Kalau dulu orang makan sayur banyak dan sedikit lemak di rumah, sekarang sebaliknya. Kalau Anda ke Malang saja, Anda akan megap-megap menahan nafsu jajan karena yang namanya bisnis kuliner sudah dalam hitungan sekian puluh kedai makan per meter persegi.

Ayah saya terkena stroke ringan dua bulan yang lalu. Setelah masuk UGD, langsung diharuskan rawat inap. Pada hari kedua beliau sudah tidak bisa berbicara sehingga kami semua panik dan setengahnya pasrah (ayah saya 83 tahun). Pada hari berikutnya, mendadak dia seperti menemukan kekuatan entah dari mana dan akhirnya bisa berbicara lagi walaupun dengan sangat susah payah dan kadang malah membuat geli karena ucapannya jadi ndak karu-karuan.

Kemarin ketika saya mengunjungi ayah, saya terkesan dengan kemajuannya. Bicaranya sudah mendekati normal, sudah lancar lagi. Jalannya juga sudah tidak memakai tongkat. Kursi roda yang disediakan buat dia tergolek saja nganggur di pojok ruangan. Lalu saya berpikir, “mungkin Bapak saya ini bisa sembuh relatif cepat karena semangat hidupnya luar biasa.”. Bapak saya memang tergolong sangat aktif ketika masih muda, dan bahkan ketika sudah pensiun pun dia tetap ngotot ingin mengajar. Stroke yang menimpanya pun tergolong ringan. Mungkin karena Bapak saya juga suka berolahraga. Di usia mendekati 80 an dulu dia masih jalan pagi setiap hari, dan sorenya kadang-kadang bersepeda dikelilingi kedua cucunya.

Lalu kemarin saya menerima kabar dari seorang mantan murid bahwa ada gejala penyumbatan di otaknya, yang ditemukan setelah CT scan. Karena usianya baru 27 tahun, maka saya pun merinding. Ya semoga saja hasil MRI nya tidak menunjukkan gejala ke arah stroke. Kalau iya, waduh, masak rek, usia belum juga 30 sudah terkena gejala ke arah stroke?

Sering merasa lemas, pusing cenot2 di kepala bagian belakang, sering pingsan, ucapan jadi kurang jelas, dan bibir atau pipi seperti tertarik ke satu arah, adalah gejala-gejala dini stroke. Sebaiknya kita waspada. Stroke itu bukan seperti virus Ebola yang menyerang kita dari luar. Stroke itu tumbuh dari dalam diri kita sendiri yang terbuai nyaman menyantap hidangan-hidangan kolesterol tinggi sambil berbaring malas-malasan menonton TV atau gadgetan di sofa. . . .

Leave a Reply