Ayo Jadi Teroris, Tapi Mengapa?

Kita semua prihatin akan mulai maraknya aksi teror di berbagai belahan dunia. Setelah bom meledak di konser Ariana Grande di Inggris, terjadi pula ledakan bom di Kampung Melayu di Jakarta. Dunia sedang masuk pelan tapi pasti dalam cengkeraman teroris.

Kenapa orang menjadi teroris?

Saya mengutip pendapat dari seorang pakar sosiologi di sebuah laman. Menurut dia, ada beberapa macam sebab kenapa seseorang menjadi teroris.

Yang pertama adalah kemiskinan akut. Kalau seseorang adalah orang yang miskin tujuh turunan (artinya mulai dari mbah buyut sampai dia sendiri dari dulu tetap miskin), dia mudah tergoda bujukan untuk memberikan makna dalam hidupnya yang kering kerontang itu melalui tindakan radikal. “Kamu mau mati miskin, atau mau mati sebagai martir yang membela keyakinanmu?”. Maka bagi dia pilihan kedua pastilah lebih menggiurkan. Ya, logis toh, lapa wis melarat akhirnya mati sisan? Kan lebih baik mati dan menjadi pahlawan? Demikianlah, kemiskinan bisa memicu niat untuk menjadi teroris.

Yang kedua, tersirat dari uraian pertama tadi, adalah keinginan untuk memberikan hidup ini suatu makna. Seorang yang tergolong ampas masyarakat karena tidak punya apa-apa untuk ditawarkan kepada masyarakat luas akan cenderung kehilangan makna. Apa artinya hidup di dunia ini kalau hanya untuk bernafas dan buang hajat setelah itu nganggur lontang-lantung ditolak sana-sini? Maka menjadi teroris bisa merupakan salah satu jalan untuk membuatnya bermakna.
Yang ketiga adalah keinginan untuk memulai suatu tatanan dunia baru, yang dilandasi oleh kemuakan luar biasa terhadap tatanan dunia yang ada sekarang. Orang seperti ini biasanya mudah sekali melihat berbagai kelemahan sistem sosial yang sehari-hari dilihatnya. Jurang kaya miskin makin menganga, hedonisme dimana-mana, ketidakadilan merajalela, gaya hidup bebas seperti LGBT mulai diterima, dan sebagainya. Maka dengan sebuah sentuhan cerdik seorang provokator, dia lalu meyakini bahwa satu-satunya jalan untuk mengubah semua yang rusak itu adalah membunuh sistem yang ada. Caranya ya dengan membawa diri ke sebuah kerumunan hedon lalu meledakkan diri disana. Pikirnya, kalau tidak dengan cara begini dunia akan makin larut dalam kerusakannya.

Ternyata, selidik punya selidik, dugaan bahwa kemiskinan adalah penyebab terorisme agak goyah setelah diketahui bahwa banyak para teroris yang berasal dari keluarga menengah, keluarga baik-baik, dan bahkan berpendidikan tinggi pula. Lha terus apa yang membuat mereka seolah kehilangan akal sehat lalu menjadi teroris? Barangkali keinginan untuk membentuk suatu tatanan dunia baru itu yang menjadi pemicunya.

Jadi memang tidak mudah menemukan penyebab seseorang menjadi teroris. Keputusasaanyang akut bisa memicunya, tapi demikian juga dengan ketidakpuasan yang akut akan dunia yang ada sekarang.

Mungkin ada baiknya mencari tahu jawaban dari pertanyaan ini: kenapa seseorang tidak mau menjadi teroris? Mungkin seorang teroris yang sudah bertobat bisa menyediakan jawabannya. Mungkin juga orang baik-baik yang ditawari untuk menjadi teroris tapi menolak juga bisa menawarkan sebuah jawaban.

Sekarang sudah memasuki bulan puasa. Semoga bulan puasa dan Lebaran yang menyusul setelahnya berjalan damai dan lancar. Saya perlu menuliskan harapan itu, sebab ada beberapa posting saya yang meramalkan sesuatu yang gelap ternyata memang terjadi beneran di dunia nyata.

Leave a Reply