Psikopat

Saya bersyukur dalam hidup saya tidak pernah berkenalan dengan seorang psikopat. Mungkin juga karena teman saya terbatas (maklum introvert), mungkin juga karena orang psikopat tidak banyak di lingkungan kita yang masih kuyub dengan budaya Timur.

Tapi tulisan ini tentang mendeteksi apakah seseorang itu psikopat atau tidak. Juga, karena saya penasaran ada mahasiswa yang bertanya di kelas Seminar Proposal “apa bedanya psikopat dengan sociopath?” Mahasiswa yang saat itu sedang presentasi hanya mengatakan “bedanya tpis, jadi sulit dibedakan.”

Ini membuat saya tergerak untuk mengulik penjelasan tentang psikopat. Setelah saya baca, saya merasa sedikit tercerahkan tapi juga bingung dan gusar. Kenapa jadi banyak sekali ciri-ciri seorang psikopat? Laman yang saya baca itu panjangnya hampir 16 halaman. Disitu diuraikan bahwa seorang psikopat itu cenderung sadis, suka memanipulasi, suka menipu, tidak punya rasa bersalah atau rasa kasihan, bisa pura-pura simpati dan mencucurkan air mata buaya, sangat berpusat kepada diri sendiri, dan masih banyak lagi.

Kalau soal memanipulasi, saya tahu dan bahkan kenal lho orang-orang yang cenderung suka memanipulasi koleganya. Nampaknya dia tidak puas kalau bekerja dengan lurus-lurus saja. Dia merasa senang kalau bisa merekayasa beberapa hal sehingga pada akhirnya rekan kerjanya lah yang harus jungkir balik menyelesaikan tugas.

Soal bermulut manis, wah itu juga tidak jarang saya temui. Di budaya Jawa, hampir sebagian besar orang bermulut manis di depan kita. Di belakang punggung kita, omongannya bisa lain lagi dan tak jarang membicarakan hal-hal buruk tentang kita. Jadi, sebagian dari mereka adalah psikopat, atau memendam bibit-bibit psikopat juga?

Mungkin yang membedakan psikopat dengan seorang normal yang kadang-kadang jatuh ke dalam dosa adalah betapa kebalnya si psikopat terhadap nuraninya sendiri. Seorang psikopat mampu berbohong berkali-kali, mampu melakukan kekerasan berkali-kali, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kalaupun dia nyaris ketahuan berbohong, dia akan menutupinya dengan kebohongan yang lain. Kalau pun akhirnya semua kebohongannya terkuak, dia tenang-tenang saja tidak gugup atau mewek atau menyesal. Bahkan raut mukanya seperti mengatakan: “Ok, kali ini aku ketahuan. Lain kali aku akan berbohong lagi dengan cara yang lebih canggih supaya tidak ketahuan.” Jadi apakah para koruptor yang jumlahnya makin lama makin banyak di negeri kita itu juga psikopat? Bukankah mereka memanipulasi orang, membohongi publik, dan merugikan rakyat banyak dengan raut muka seolah selebritis yang dielu-elukan massa? Waduh, gawat lah kita ini. Berarti hampir semua pejabat di Indonesia psikopat, atau setidaknya memendam bibit psikopat?

Satu lagi ciri psikopat adalah sangat berpusat kepada diri sendiri. Ini masih ditambah dengan impian yang sangat muluk sehingga kedengaran tidak masuk akal. Dia akan cenderung menceritakan kepada orang lain tentang kehebatan dirinya, dan kelihatan suka menikmati pujian atau apresiasi orang lain terhadap dirinya. Sebenarnya yang kayak beginian pun tidak jarang dalam kehidupan kita, bukan? Selalu ada saja orang-orang di sekitar kita yang setiap kali ketemu selalu membangga-banggakan dirinya dan pencapaiannya sampai pada taraf memuakkan. Yah, ada juga sih satu kolega yang setiap kali ada orang lain menyebut nama mahasiswa atau pihak tertentu, dia langsung berujar: “oh, itu mahasiswa bimbingan saya,” atau “saya kenal tuh orang tuanya”, atau “saya pernah tuh main ke tokonya” dsb. Dalam hati saya bilang oh shut the f**k up barang ga penting ga usah dikatakan, bro! Lhaa, jangan-jangan dia juga memendam bibit psikopat?

Lalu ada satu lagi yang mungkin merupakan ciri psikopat beneran: penuh nafsu menghancurkan dan membunuh. Tokoh Norman Bates di film “Psycho” dan Hannibal Lecter di film “Silence of the Lambs” adalah contoh paling gampang untuk ciri ini. Masih ingat kan adegan Norman menusuk-nusuk cewek di kamar mandi, dan Hannibal Lecter mengkremus wajah polisi penjaganya sampai mati. Nah, ini, saya yakin (semoga) tidak banyak orang-orang di sekeliling saya yang seperti ini. Kalau disuruh menggambar sesuatu, tanpa sadar orang-orang seperti ini akan menggambar adegan pembunuhan, penyayatan anggota tubuh, penyembelihan, pisau berdarah-darah, dan adegan-adegan sadis lainnya. Ini mengerikan! Nah apakah itu cerminan psikopat atau sekedar fantasi yang tidak berbahaya bahkan mendekati sebuah karya seni, masih harus ditelaah lebih jauh lagi. Jadi, kembali ke awal tulisan ini: tidak mudah mendeteksi seorang psikopat. Jangan sampai kita sudah telanjur menangkap seseorang sebagai psikopat, ndak tahunya dia hanya lah calon seniman yang penuh fantasi atau seorang kesepian yang haus perhatian dan belaian.

Leave a Reply