Menyembuhkan Penyakit Mental dengan Kitab Suci

Beberapa tahun yang lalu dunia dihebohkan oleh penembakan massal di kampus Virginia Tech di US. Pelakunya seorang mahasiswa yang memang sudah keliatan freak sejak awal. Peristiwa itu tentu saja tragis.

Setelah diselidiki latar belakangnya, terungkap bahwa ibu dari si penembak itu memang sudah mengetahui bahwa putranya menderita kelainan mental sejak masih kecil. Mungkin semacam psikopat begitu. Lalu karena dia adalah seorang Kristen taat, maka dia yakin bahwa anaknya sedang kerasukan setan. Maka dibawanyalah sang anak itu dari pastor ke pastor, dari satu gereja ke gereja lainnya untuk mengusir setan yang mereka yakini bersemayam dalam diri si anak muda. Tentu saja semua tindakan ini dilandasi oleh keyakinan mereka terhadap Kitab Suci.

Maka seorang pengamat sosial bernama Sam Harris — juga seorang tokoh atheis terkenal — terheran-heran. “Kenapa tidak mau membawa anak itu ke psikiater? Kan ada ahli jiwa yang bisa menganalisis gejala-gejalanya secara ilmiah, lalu meresepkan pengobatan yang juga secara ilmiah? Kenapa berpegang pada Kitab Suci untuk urusan yang sebegitu gawatnya? Ya benar, (sebagian dari ) Kitab Suci itu mengandung nilai-nilai mulia, tapi untuk sebuah gejala penyakit mental, bukankah dunia ilmu pengetahuan menawarkan sesuatu perawatan yang sudah terbukti secara ilmiah karena dikaji dan diteliti secara ketat dengan menggunakan nalar? Kitab Suci mana bisa memberikan analisis dan penalaran seperti itu?”

Jadi seperti kita ketahui, pada akhirnya perawatan gereja dan Kitab Suci itu gagal total. Si anak tetap sakit dan akhirnya nekad membantai teman-teman sekelas dan guru-gurunya di sekolah. Inna lillahi . . . .

Apakah dengan demikian yang namanya doa, kepercayaan terhadap Sesuatu Yang Serba Maha itu menjadi tidak berguna? Ya, barangkali ada gunanya juga. Maka lalu sibuklah orang-orang ilmuwan (yang sebagian adalah atheis) meneliti pengaruh doa terhadap kesehatan mental. Mereka sibuk meneliti gelombang otak ketika berdoa, meneliti kadar stressnya, meneliti dampaknya baik jangka pendek maupun jangka panjang. Nah, itu bedanya. Kaum saintis dan mereka yang tak jemu mengandalkan pengamatan empiris, penalaran, analisis dan bukti ilmiah selalu mendekati apapun yang ada di dunia ini dengan pendekatan saintifik. Mereka tidak bisa menerima pendirian yang diyakini oleh (sebagian besar) orang-orang beragama: “Iman tidak memerlukan bukti! Iman tidak memerlukan pemikiran manusia!”

Pantaslah dulu gereja Katolik menghukum Copernicus yang menurut mereka “menggoyahkan iman Kristen” dengan secara lancang melakukan penelitian empiris untuk meyakini bahwa ternyata Bumilah yang bergerak mengedari matahari, dan bukan sebaliknya.

Di jaman ini, Anda sebaiknya berhati-hati mengatakan bahwa Bumi itu bulat (karena pengamatan dari luar angkasa dan perhitungan sangat detail sudah membuktikan hal itu) . Kalau Anda ketemu dengan orang yang mengimani bahwa Bumi itu datar, maka Anda bisa tunggang-langgang dikejar-kejar mereka dan dimusuhi. Itu juga yang saya rasakan terhadap orang beragama. Saya memang takut kecoak, tapi lebih baik melihat kecoak terbang daripada berbicara nalar dengan orang yang fanatik beragama. Kenapa? Karena entah mengapa, semakin mereka “mendalami” agama dan “kitab suci” nya, semakin cepat mereka tersinggung dan lalu menjadi marah!

Leave a Reply